JAKARTA - Anak usaha dari PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang merupakan kontraktor tambang, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mengincar pengerjaan proyek PT Newmont Nusa Tenggara.
"Jika peluang Newmont muncul, kami juga akan menuju ke sana. Tentunya, kami harus memperkuat perusahaan dulu sebelum ke arah itu," kata Direktur Utama DEWA Adwin H Suryohadiprojo, saat paparan publik di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Senin (28/12/2009) malam.
Hal ini nampaknya wajar, pasalnya perusahaan terafiliasinya yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah dipastikan mendapatkan saham divestasi dari NTT bersama Pemda.
Saat ini, perseroan masih mengerjakan kontrak yang nilainya diakui cukup besar. Yakni dari anak usaha BUMI, PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Sementara itu, Direktur DEWA Gani Bustan menambahkan, perusahaan mematok pendapatan pada 2010 tumbuh 20 persen atau sebesar USD269,42 juta bila dibandingkan dengan proyeksi di 2009 yang sebesar USD224 juta.
Sementara itu, laba sebelum beban, pajak, depresiasi, dan amortisasi (ebitda) diharapkan bisa tumbuh hingga 50 persen, yakni menjadi USD77,29 juta.
Di sisi lain, dana dari right issue yang akan dilakukan oleh perseroan rencananya akan digunakan untuk membayar utang. "Dana right issue dipakai untuk bayar utang. Total utang terhadap konsorsium USD20 juta, dengan pembayaran USD45 juta, berarti sisa utang jadi USD75 juta," paparnya.
Restrukturisasi utang yang dilakukan perseroan ini juga sedikit mengganggu produksi perseroan. Pasalnya, semua pembayaran ke supplier harus melalui mekanisme permintaan persetujuan ke kreditor (14 hari). "Sehingga penundaan pembayaran ke semua supplier (verfikasi), hambat supply sparepart dan operasional," tambahnya.
Selain itu, dana dari right issue tersebut juga akan dipergunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan di 2010 yang mencapai USD45,4 miliar. "Dana capex dari right issue," ucapnya.