JAKARTA - PT Pertamina (persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menyepakati pembagian saham (share) untuk pembangunan LNG Floating Receiving Terminal di Jawa Barat sebesar 60 persen-40 persen.
"60:40 persen, di mana PGN 40 persen," ujar Direktur Utama PGN Hendi Priyosantoso, seusai rapat di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (18/1/2010).
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menyatakan bahwa Pertamina menyiapkan dana sekira USD200 juta untuk pembangunan LNG Floating Receiving Terminal tersebut.
Karen pun mengakui bila Pertamina juga akan membangun LNG Floating Receiving Terminal milik sendiri di Jawa Timur dengan biaya yang hampir sama yaitu sekira USD200 juta.
Adapun kapasitas untuk masing-masing LNG receiving terminal tersebut adalah 500 mmscfd. "Biayanya USD200-an juta, masing-masing," ungkapnya terburu-buru.
Meskipun belum dibangun, namun dia optimistis pembangunan akan selesai pada kuartal IV-2011 tepatnya pada September mendatang. "Selesai September 2011," tandasnya.
Sementara itu, mengenai pasokan gas, Direktur Operasi BP Migas Budi Indianto menyatakan bahwa pasokan gas untuk kedua LNG tersebut akan diperoleh dari Tangguh, Bontang, dan diimpor dari Qatar.
"Gasnya dari Qatar, dan diversion Tangguh dan Bontang," ujar Budi.