JAKARTA - Kembali menguatnya nilai tukar dolar atas beberapa mata uang utama dunia, kembali menggerus nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan.
Berdasarkan data yahoofinance, nilai tukar rupiah berada di level Rp9.340 per USD, atau melemah jika dibandingkan dengan perdagangan kemarin sebesar Rp9.285 per USD. Sementara berdasarkan data kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah malah ditutup melemah ke posisi Rp9.321 dari hari sebelumnya yang sebesar Rp9.318 per USD.
Seperti dikutip dari Valbury Securities, minat terhadap aset-aset berisiko (risk appetite) berlanjut turun di perdagangan global Selasa 23 Februari setelah muncul kembali kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian dari rilis pesimistis data ekonomi.
Bursa saham Wall Street dan Eropa mengalami tekanan rata-rata lebih dari satu persen, demikian pula dengan harga komoditas emas dan minyak.
Dolar Amerika dan yen kembali menguat atas mata uang utama dunia yang ber-yield lebih tinggi, karena kedua mata uang tersebut menjadi safe-haven saat muncul kekhawatiran global.
Data consumer confidence AS periode Februari mengalami kontraksi di bawah level 50, level terendah selama 10 bulan akibat kekhawatiran terhadap kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja. Sementara rilis indeks harga perumahan AS periode Desember dari S&P Case-Shiller turut memberikan pesimistis terhadap outlook perekonomian ke depan, meskipun penurunannya untuk basis tahunan mulai berkurang.
Dari Eropa, indeks business confidence Jerman Februari dari Ifo dirilis lebih rendah dari perkiraan akibat faktor cuaca yang menekan konstruksi dan sektor ritel sehingga memberikan indikasi bakal terjadinya kontraksi pada tingkat pertumbuhan ekonominya di kuartal I tahun ini.
Di tengah berkembangnya sentimen ekonomi yang negatif kemarin, lembaga rating credit Fitch men-downgrade peringkat empat bank terbesar Yunani, mengingatkan kembali pelaku pasar terhadap kondisi defisit Yunani yang solusi kongkritnya belum ada.
Kekhawatiran juga berkembang terhadap perekonomian Inggris. Dalam testimoni di depan parlemen Inggris kemarin, Gubernur BoE Mervyn King mengatakan, bahwa outlook ekonomi Inggris masih lemah dengan langkah pemulihan yang belum meningkat, untuk itu menurutnya ada kemungkinan kelanjutan untuk Quantitative Easing (QE).
Dalam pertemuan regular BoE beberapa waktu lalu, seluruh anggota dewan moneternya sepakat untuk menghentikan QE, berupa program pembelian aset yang membuat BoE menggelontorkan dana 200 miliar poundsterling untuk menyelamatkan perekonomiannya dari kondisi resesi.
GBP mengalami tekanan terhadap euro dan USD belakangan ini akibat concern ekonomi Inggris, akhir pekan lalu dirilis pesimis data retail sales Inggris. Pekan ini pasar akan menantikan data GDP Inggris yang akan dirilis Jumat 26 Februari esok.
(Rani Hardjanti)