JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menuturkan jika sebanyak 47 persen dari total aset Bank Indover akan dijual melalui kurator paling tidak akan dilakukan pada Maret mendatang.
"Kemarin kuratornya ke Jakarta. Akhir 2010 akan selesai dan kemarin sudah memberikan ke pangadilan akan dibayar sebesar 47 persen, tentunya kalau sudah ke pengadilan 1-2 bulan sudah dibayarkan," kata Deputi Gubernur BI Ardhayadi saat ditemui wartawan, seusai RDP terkait Rencana Restrukturisasi surat utang 002, 004, dan 007, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (25/2/2010).
Untuk itu, dia melanjutkan jika prosesnya lancar maka dana para kreditur akan mulai dibayarkan pada bulan ini, atau paling lambat pada Maret mendatang. "Masing-masing dibayarkan 47 persen dari tagihannya yang cukup besar dan itu belum selesai," ucapnya.
Kekurangannya, lanjut dia, akan diselesaikan proses penjualan asetnya tersebut ke Amsterdam. "Akan dibawa ke Amsterdam tapi jumlahnya tidak besar," imbuh dia.
Sementara itu, untuk kantor cabang Hong Kong dari Bank Indover, sudah rampung proses penjualan asetnya. "Di Hong Kong Alhamdulilah bisa lebih 100 persen, jadi kreditur di Hong Kong dibayar semua," jelas dia.
Selanjutnya, pada intinya kurator akan melihat sebab-sebab bank tersebut bisa sampai bangkrut. "Tapi sejauh ini informasi yang saya peroleh tidak ada sifatnya yang kriminal," ungkapnya.
Sekadar mengingatkan, sejumlah bank BUMN dan bank nasional tercatat menjadi korban Bank Indover yang akan segera dilikuidasi. Bank-bank yang menjadi korban Indover adalah Bank Mandiri USD31 juta, Bukopin USD15 Juta, BNI sekira USD27 juta, Bank Ekonomi Raharja EUR 19.239,82, Bank Lippo (CIMB Niaga) sebesar USD5 juta, dan PT Bank Artha Graha Internasional.
Bank Indover dibekukan oleh pengadilan Belanda per 7 Oktober 2008 karena kesulitan likuiditas dan tidak memiliki dana cukup untuk menanggung dana pihak ketiganya. (wdi)
(Rani Hardjanti)