JAKARTA - Berdasarkan pantauan Kementerian Perdagangan (Kemendag), produk elektronika impor asal China masih mendominasi pasar domestik sebesar 34 persen.
Dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 56 tahun 2008, pemerintah mengatur ketentuan impor lima produk tertentu, yakni alas kaki, elektronik, tekstil dan produk tekstil, mainan anak-anak, dan makanan minuman (mamin), hanya boleh melalui lima pelabuhan.
"Dari lima produk impor itu, paling banyak adalah elektronika yang diimpor dari China, terutama untuk telepon seluler dan laptop yang senilai USD2,4 miliar," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida, di Jakarta, Rabu (10/3/2010).
Selain elektronika, empat produk impor lain juga merupakan produk asal China. Menurutnya, impor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang sebesar 42 persen, nilainya mencapai USD100 juta. Mainan anak 70 persen mencapai USD46 juta.
Sedangkan untuk alas kaki, kata dia, senilai USD63 juta, yakni sebanyak 50 persen dari China. Namun untuk mamin, nilainya mencapai USD171 juta didominasi oleh Malaysia sebesar 18 persen.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Mahendra Siregar menjelaskan, China memang menguasai impor Indonesia sejak tiga tahun terakhir.
"Dalam lima tahun ini, ekspor ke China akan naik secara signifikan. Dalam waktu dekat akan menjadi posisi pertama. Indonesia dan China akan menjadi mitra perdagangan yang saling membutuhkan dan menguntungkan," tukas dia.