JAKARTA - Wacana pemboikotan Menteri Keuangan Sri Mulyani oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam pembahasan RAPBN-P 2010, yang mencerminkan ketidakharmonisan antara pemerintah dengan DPR dinilai tidak akan mempengaruhi perdagangan rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) akhir pekan ini.
"Pengaruh ke saham dan rupiah, tidak akan terjadi. Tren penguatan rupiah yang berhasil tembus level Rp9.100 per USD dan indeks saham yang kemarin sempat tembus level tertingginya lagi di tahun ini karena pengaruh regional dan asing kian jelas," ujar analis riset PT Reliance Securities Gina Novrina Nasution, saat berbincang dengan okezone, di Jakarta, Jumat (12/3/2010).
Dijelaskannya, nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin ditutup melemah di kisaran Rp9.190 per USD (kurs tengah Bloomberg) sesuai dengan rentang perkiraan. "Pelemahan terhadap USD juga terjadi pada beberapa mata uang Asia seperti won," ujarnya.
Sentimen akhir pekan, jelasnya, nampaknya akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan. Aksi profit taking pun diproyeksikan bakal kembali terjadi pada hari ini. "Saat ini belum ada lagi faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah secara signifikan. Tidak ada faktor dominan mempengaruhi rupiah," katanya.
Dia menjelaskan, saat ini pelaku pasar menanti pengumuman data inflasi China. Karena bila inflasinya naik maka China akan menaikkan suku bunga, dan akan berdampak buruk bagi mata uang dunia.
Sementara IHSG masih mencatat kenaikan, ditutup di 2.676,52, mengikuti kenaikan bursa utama regional Hong Kong dan Tokyo. Demikian pula dengan harga WTI yang masih menapak perlahan, ditutup di USD82,11 per barel. "Kenaikan harga minyak WTI tersebut kami perkirakan bisa melanjutkan kenaikan indeks di Asia, tetapi rupiah akan tertekan ke kisaran Rp9.200-Rp9.210 per USD," ungkapnya.
Dia mengatakan, ancaman terjadinya koreksi atas saham unggulan (bluechip) nampaknya bakal membuat indeks tersungkur. Investor diperkirakan akan melakukan langkah ambil untung (profit taking) pada akhir pekan ini. "Aksi profit taking atas saham bluechip tersebut sudah terjadi mulai kemarin, dan akan berlanjut pada hari ini," katanya.
Sementara itu, menurut buletin Valbury Securities, pelemahan rupiah secara global akibat tidak ada indikasi jelas dari rilis data ekonomi AS semalam. Klaim data pengangguran yang dirilis secara mingguan dinilai lebih pesimistis dari perkiraan, sementara defisit perdagangan Januari AS dirilis lebih baik dari perkiraan.
"Yen masih melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia karena adanya perkiraan bahwa dalam pertemuan moneternya minggu depan, BoJ akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut yang akan membatasi penguatan yen dari arus repatriasi musiman di akhir tahun fiskal Jepang Maret ini," ungkap buletin tersebut.
Kekhawatiran terhadap pengetatan kebijakan moneter dan suku bunga China, serta mulai surutnya topik regulasi perbankan baru di parlemen AS akan memicu fluktuasi pada pergerakan bursa saham Asia di akhir minggu ini.
Naiknya saham-saham perbankan finansial AS dapat men-support saham di sektor yang sama di bursa Asia hari ini, dan bukan tidak mungkin akan membatasi sentimen negatif dari isu China. Untuk pasar global, seperti forex dan komoditas hari ini akan dinantikan data retail sales Februari AS untuk memperjelas arah perekonomian AS.
(Candra Setya Santoso)