ACFTA Tidak Dibahas Dalam Asean Summit

Sandra Karina, Jurnalis
Senin 22 Maret 2010 18:21 WIB
Mendag) Mari Elka Pangestu.
Share :

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang mewakili Indonesia sebagai negosiator  perjanjian perdagangan bebas (Asian-China Free Trade Agreement/ ACFTA) memastikan, tidak akan membahas hal tersebut dalam pertemuan Asean Summit ke 16 yang diselenggarakan di Hannoi, pada tanggal 7 April hingga 9 April 2010.

"Kita hanya akan melakukan pembahasan sesuai dengan jadwal Asean Summit," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu di Jakarta, Senin (23/3/2010).

Menurutnya, pembahasan yang akan dilakukan dalam Asean Summit tersebut adalah mengenai Asean Economic Community (AEC) blue print.

Seperti diketahui, agenda utama dalam Asean Summit ke 16 ini adalah membahas AEC. Dan yang menjadi fokus adalah midterm review dari AEC Blueprint, rencana pemberlakuan Asean Trade In Goods Agreement (ATIGA) untuk bidang perdagangan barang,  pengembangan Asean Single Window (ASW), penyelesaian Jasa (AFAS) Paket ke-7 dan persiapan AFAS Paket ke-8 untuk bidang perdagangan jasa serta rencana pemberlakuan Asean Comprehensive Investment Agreement (ACIA) yang diharapkan dapat dilaksanakan pada bulan Agustus 2010 untuk meningkatkan sektor investasi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Marty Nathalegawa . Menurutnya,  pertemuan tersebut dilakukan dalam kerangka pelaksanaan piagam Asean dan mencapai target AEC 2015. "Presiden akan menyampaikan kepentingan Indonesia seperti apa, termasuk Indonesia akan senantiasa menempatkan diri pada kemajuan ke arah AEC," kata Marty.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengaku, pemerintah tidak menyiapkan agenda dan target khusus dalam pertemuan tersebut. "Kita tidak  menyiapkan target atau penawaran investasi tertentu saat pertemuan," ungkap Gita.

Sebelumnya, Menteri-Menteri ekonomi ASEAN berencana akan membentuk blueprint AEC yang intinya adalah ASEAN sebagai pusat perdagangan regional yang terintegrasi dan dapat disejajarkan dengan Masyarakat Ekonomi Eropa (EU).

Dalam cetak biru tersebut terdapat empat prioritas dalam kerangka AEC yaitu adanya arus barang dan jasa yang bebas (free flow of goods and services), ekonomi regional yang kompetitif (competitive economic region), perkembangan ekuitas ekonomi, (equitable economic development), dan integrasi memasuki ekonomi global (full integration into global economy). Blue print itu menggambarkan kesiapan, langkah yang harus dicapai dan jadwal pembentukan AEC pada 2008 hingga implementasi 2015.

Menurut Mari, setiap enam bulan sekali antara anggota ASEAN akan melakukan pertemuan guna mengidentifikasi berbagai masalah yang dihadapi bukan saja terhadap empat negara seperti Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar, yang cenderung belum siap, tetapi juga enam negara yang secara indikasi telah siap seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam.

"Dalam cetak biru AEC setidaknya terdapat 12 sektor yang menjadi prioritas integrasi dalam AEC yaitu produk argo industri, jasa penerbangan, otomotif, E-ASEAN, elektronika, perikanan, peralatan kesehatan, produk berbahan baku karet, tekstil dan garmen, pariwisata, produk berbahan dasar kayu, dan jasa logistik," tukas Mari. (wdi)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya