JAKARTA - Setelah melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan kemarin, investor nampaknya akan mulai menyeleksi saham mana yang berpotensi dan akan masuk kembali ke pasar.
Vice President Valbury Securities Nico Omer J menjelaskan investor asing akan akan terus memasuki pasar domestik. Dimana mereka akan memanfaatkan membaiknya ekonomi dan situasi dalam negeri yang sedang kondusif. Dan, menurutnya dalam jangka pendek dipastikan tidak akan terjadi perkembangan yang bisa mengganggu pasar.
"Saya rasa investor asing masih tetap mengalir. Tidak ada alasan untuk mereka menghindar," katanya ketika dihubungi di Jakarta.
Hal ini, lanjutnya dipengaruhi oleh sejumlah indikator positif diprediksi akan mengangkat indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini. Indikator paling kentara adalah kemungkinan reboundnya harga minyak. Juga positifnya bursa Wall Street.
"Bursa global dan regional masih cukup memberi harapan untuk penguatan indeks," papar.
Lalu kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya inflasi lebih dalam mulai menyusut. Selanjutnya, kemungkinan untuk naiknya suku bunga bank central Amerika belum ada tanda-tanda segera dilakukan. "Ini memberi gambaran jelas bagaimana ke depan akan lebih baik," tambahnya.
Menurutnya, indeks saham hari ini akan bergerak di level support resistance 2.780-2.840. DImana dia mengatakan saham yang memiliki potensi memberi antara lain PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Timah Tbk (TINS), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).
Walau demikian, hal yang berebda diungkapkan oleh Trimegah Securities. Menurut Trimegah aksi profit taking diproyeksikan masih akan menekan pasar saham. Alhasil, langkah indeks harga saham gabungan (IHSG) nampaknya masih akan tertahan.
"Aksi profit taking dari pelaku pasar pada beberapa saham dengan kapitalisasi besar ikut menekan IHSG," kata Trimegah.
Padahal laporan keuangan sejumlah emiten besar nampak sangat positif. Ditambah lagi dengan deviden tahunan yang dibagikan oleh emiten-emiten tersebut. Hanya saja nilai saham-saham tersebut nampaknya sudah overvalued, sehingga investor nampaknya memilih menarik keuntungan terlebih dahulu, sambil menunggu waktu yang tepat untuk masuk kembali ke pasar.
Menurutnya, hal ini diperparah lagi dengan kondisi indeks regional yang masih bergerak mixed, dimana kemungkinan indeks regional ini melemah masih terbuka lebar. "Sentimen regional yang cenderung negatif membuat laju IHSG tertahan dan ditutup melemah," imbuhnya.
Menurutnya, IHSG akan bergerak dikisaran support resistance 2.756-2.813. Dimana saham yang memiliki potensi antara lain saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO).
Pada perdagangan, Senin (29/3/2010) IHSG mengalami pelemahan sebanyak 18,31 poin atau 0,65 persen ke posisi 2.794,77. Di mana sebanyak 97 saham harganya turun, 96 saham harganya naik dan 90 saham tidak berubah. Nilai transaksi perdagangan tercatat Rp4,049 triliun, sementara volume perdagangan tercatat sebanyak 5,676 lembar saham.
Indeks LQ45 terpantau juga mengalami pelemahan sebanyak 4,2 poin ke 544,46, begitu juga dengan Jakarta Islamic Index (JII) yang turun sebanyak 0,99 poin ke 445,97.
Seluruh sektor terpantau mengalami pelemahan, di mana sektor konsumsi turun 6,84 poin, manufaktur turun 5,75 poin, dan sektor perkebunan turun 4,345 poin. Dan hanya sektor pertambangan yang mengalami penguatan hingga 32,8 poin, yang menahan indeks saham tidak melemah lebih dalam lagi.
Sementara itu, indeks Nikkei turun sebanyak 9,9 poin atau 0,09 persen ke 10.986,47, indeks Hang Seng malah naik 184,3 poin ke 0,88 persen ke 21.237,43, serta indeks Straits Times naik 18,6 poin atau 0,064 persen ke 2.924,88.
(Widi Agustian)