JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan peningkatan ekspor produk kelapa dan turunannya meningkat sekira 20 persen setiap tahunnya.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Alex Retraubun mengatakan, Kemenperin mencanangkan program reindustrialisasi pengolahan kelapa yang selama ini telah tengelam. Program ini tertuang dalam Perpres nomor 28 tahun 2008 tentang kebijakan industri nasional, yang berbasis agro di antaranya kelapa.
"Industri kelapa menjadi salah satu industri pengolahan yang dipilih untuk dilakukan reindustrialisasi karena industri memiliki peranan yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan jutaan petani Indonesia," ujarnya, di Jakarta, kemarin.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kemenperin), 98 persen dari 3,3 juta hektare (Ha) perkebunan kelapa adalah milik petani, sisanya perusahaan. "Pohon kelapa juga mudah dikembangbiakkan. Usia produktifnya hampir mencapai 50 tahun dan dapat diselingi pohon tumpang sari lainnya, jadi investasi lebih murah,” terangnya.
Alasan lain yang juga memacu Kemenperin untuk melakukan reindustrialisasi di sektor industri pengolahan kelapa dikarenakan kekhasan pohon kelapa itu sendiri, yang hanya hidup di negara tropis. Saat ini, kata dia, Indonesia merupakan negara tropis terbesar di dunia.
Alex mengatakan, target utama dari program reindustrialisasi kelapa ini adalah terjadi peningkatan ekspor sebesar 20 persen setiap tahunnya.
Berdasarkan data Kemenperin, pada 2008 produk kelapa dan turunannya hanya mampu mengekspor sebanyak USD944,185 juta pada 2008, atau baru menyumbang sekira 0,69 persen dari total ekspor 2008.
Untuk mencapai target tersebut, Alex mengungkapkan, dalam program jangka menengah ini, Kemenperin menargetkan untuk peningkatan kebutuhan bahan baku. Di mana dalam jangka menengah ini, kata dia, beberapa program dilakukan, di antaranya perluasan lahan, diversifikasi produk, optimalisasi kapasitas industri, peningkatan mutu produksi, dan kerja sama internasional.
Sedangkan untuk program jangka panjang pemerintah akan mengembangkan industri pengelolaan nonpangan serta pembangunan pusat-pusat pengembangan industri pengolaan di setra produksi.
Untuk mengembangkan program ini, Alex menyadari sangat sulit, karena investor belum banyak yang berminat. Oleh karena itu pihaknya sedang berupaya memikirkan memberikan insentif agar industri pengolahan kelapa dapat diminati.
Dia menambahkan, saat ini, peringkat Indonesia masih di bawah Filipina dalam nilai ekspor kelapa dan produk turunannya. "Pada 2008, nilai ekspor Indonesia untuk komoditas tersebut mencapai USD944 juta, sementara Filipina USD1,49 miliar. Padahal, berdasarkan data di tahun yang sama, luas areal kebun kelapa di Indonesia cukup besar yakni 191,9 juta Ha. Sementara, Filipina hanya memiliki 29,8 juta Ha," pungkasnya.