JAKARTA – Diprediksikan krisis utang Yunani dan negara-negara Eropa Selatan akan menyeret mata uang Euro lebih dalam kelevel 1,55-1
euro per USD. Untuk itu, investor lokal
disarankan untuk menjual euro sedikit demi sedikit dan menggantinya treasury bond
berdenominasi dolar Amerika atau membeli Surat Utang Negara (SUN).
“Euro akan terus turun
, karena fokus
Bank
Sentral Eropa itu bukan menaikkan mata uang euro tetapi untuk mencegah penularan utang krisis Yunani ke Spanyol, Portugal dan negara-negara
Eropa
Selatan lainnya,
” ujar
Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan dalam acara
3rd Anniversary of IDX Investor Club, di Hotel Nikko, Jakarta, Sabtu (22/5/2010).
Meskipun demikian, dirinya meyakini krisis utang Yunani dan negara-negara di kawasan
Eropa
Selatan tidak akan berdampak besar pada pemulihan ekonomi global. Karena penopang ekonomi eropa bukanlah negara-negara
Eropa selatan tapi negara-negara
Eropa Utara seperti Jerman dan Pranci
s.
“Krisis utang negara-negara kawasan Eropa Selatan, tidak akan berpengaruh terhadap perekonomian dunia, karena bobotnya kecil. Ini lebih mirip krisis moneter Asia 1998,” jelasnya.
Dampak krisis Eropa sama seperti krisis moneter 1998, lanjutnya, terhadap Asia dampaknya memang besar. Tetapi tidak terlalu besar dampaknya terhadap dunia. Dia juga memprediksikan, kepanikan investor terhadap krisis utang eropa akan berakhir dalam
satu sampai
dua bulan.
Namun sebagai analis, dia juga mempunyai skenario terburuk yakni terjadinya default atau gagal bayar negara-negara eropa sehingga menyebabkan Jerman dan Perancis sebagai negara penopang euro keluar dari mata uang euro.
Jika hal itu terjadi maka bursa saham global akan anjlok, dan jika anjlok investor dunia akan melakukan profit taking atau capital loss. Apabila terjadi capital loss, lanjutnya, maka akan ada penarikan dana yang besar dari bursa saham di ASIA dan berimbas pada bursa saham di Indonesia.
“Tetapi, saya masih optimis perekonomian global masih akan pulih dan tidak terlalu berpengaruh untang Yunani,” pungkasnya.(adn)