BI Kaji Capital Inflow Masuk ke SBN

Rheza Andhika Pamungkas, Jurnalis
Jum'at 06 Agustus 2010 14:10 WIB
Foto: Okezone
Share :

BANDUNG - Banyaknya arus dana asing (capital inflow) yang masuk ke dalam Simpanan Bank Indonesia (SBI) membuat Bank Indonesia (BI) fokus untuk men-courage investor asing.

Hal tersebut bertujuan untuk menyimpan dana yang ada tidak lagi SBI tetapi di Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Utang Negara (SUN). 

"Salah satu yang jadi dilema BI adalah jika capital inflow masuk, maka harus diserap dalam SBI dan SBN karena kalau tidak diserap bisa ekses dan ke mana-mana," ujar Biro Kebijakan Moneter BI Yudha Agung kepada wartawan dalam acara workshop wartawan 'Korelasi Stabilitas Moneter dan Sistem Keuangan', di Hotel Jayakarta, Bandung, Jumat (6/8/2010).

Akan tetapi, lanjutnya, yang menjadi dilema adalah jika penyerapannya itu lewat SBI dan biayanya yang harus ditanggung oleh BI sangat mahal karena jika diserap oleh SBI maka dana masuk tersebut tidak bisa diserap untuk pembangunan. 

"Sedangkan jika diletakkan di SBI jangka panjang atau SUN pemerintah kan tetap bisa menggunakan uang itu seperti untuk kepentingan APBN dan fiskal. Jadi menggunakan uang itu untuk kepentingan pembangunan," jelasnya.

Untuk itu, tambahnya, BI saat ini terus men-courage agar inflow tidak masuk ke SBI yang berjangka pendek tetapi diletakkan di SBN atau SUN.

"Kita artinya men-discourage supaya inflow tidak masuk ke jangka pendek. Banyak opsi lah yang selalu kita pertimbangkan. Kemarin salah satunya sudah kita lakukan. Ke depan kita evaluasi apakah kebijakan ini sudah cukup berhasil atau apakah perlu tindakan lanjutan? Namun sampai saat ini BI  cukup optimistis men-discourage-nya karena ada beberapa inflow yang ke SBN, sebagian ke SBI yang lebih jangka panjang," tukasnya.

Namun, menurutnya, saat ini BI juga tengah mengkaji jika ingin menginvestasikan capital inflow ke sektor riil karena dikhawatirkan akan terjadi penggelembungan ekonomi.

"Cuma kita harus hati-hati juga kalau inflow-nya itu ke sektor riil yang kaya dulu maka kita bisa over investment kan atau investasi terlalu besar dengan menggunakan dana asing. Ini berarti krisis 97-98 lagi," pungkasnya. (adn)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya