BANDUNG - Perusahaan sekuritas asing dinilai terlalu mudah untuk masuk menjadi Anggota Bursa Efek Indonesia. Sehingga Anggota Bursa lokal sulit bersaing dengan Anggota Bursa asing.
Hal tersebut dikatakan Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk Michael Steven kepada wartawan saat menanggapi persaingan Anggota Bursa asing dan lokal di Gedung ITB, Bandung, Sabtu (7/8/2010).
"Perusahaan sekuritas asing dapat menjadi Anggota Bursa di Indonesia secara langsung dengan kepemilikan 100 persen, sedangkan di negara lain seperti di China, pemerintahnya menetapkan bahwa jika perusahaan sekuritas asing ingin menjadi Anggota Bursa di Pasar Saham China, mereka harus menggandeng perusahaan lokal dulu (melakukan Joint Venture) dan kepemilikannya di perusahaan tersebut juga dibatasi hanya maksimal 33 persen," jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut membuat perusahaan Anggota Bursa lokal di China memiliki nilai daya saing yang baik.
"Untuk dapat membuat perusahaan Anggota Bursa lokal mempunyai nilai daya saing yang cukup maka sebaiknya harus ada batasan bagi perusahaan sekuritas seperti yang dilakukan di China. Serta harus harus juga didukung aturan-aturan yang cukup untuk memperkuat anggota bursa lokal," tambahnya.
Lalu bagaimana wujud konkritnya? Ia menjelaskan bahwa pemerintah harus melakukan pembinaan terhadap Sumber Daya Manusia di Indonesia. Salah satu contoh nyatanya yakni jika ada perusahaan asing yang ingin masuk ke dalam pasar Indonesia, maka perusahaan asing tersebut harus melakukan transfer teknologi.
"Saat ini Anggota Bursa lokal masih belum menyadari hal tersebut. Namun dengan menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut bukan berarti Indonesia akan anti asing. Tetapi harus ada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah dan SRO lakukan untuk melindungi pasar domestik," tambahnya.
Di china, lanjutnya, perusahaan sekuritas asing tidak bisa underwriter jika tidak melakukan joint venture. Artinya underwriter asing harus menggandeng partner lokal.
"Sejauh ini, jika pemerintah kita bisa memperlakukan seperti China, akan perusahaan lokal kita menjadi punya nilai dibanding sekarang," pungkasnya.
Sebelumnya, PT Citigroup Securities Indonesia pada Rabu 4 Agustus resmi menjadi AB di Indonesia, Citigroup pun menargetkan menjadi broker peringkat tiga teratas (top three brokers) pada dua tahun mendatang. Selain Citigroup, Bank investasi terkemuka, Goldman Sachs berniat mengikuti jejak Citigroup menjadi anggota Bursa Efek Indonesia (BEI). Perwakilan Goldman Sachs Singapura serta Hong Kong telah menemui direksi BEI untuk meluluskan rencana tersebut.(adn)
(Rani Hardjanti)