JAKARTA - PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) optimistis menargetkan pendapatan sampai dengan akhir tahun ini dapat tercapai Rp251 miliar atau meningkat Rp37,64 miliar. Walaupun pendapatan sampai dengan semester I-2010 sebesar Rp99,57 miliar.
"Perseroan optimis bisa mencapai target tersebut karena sepanjang semester I-2010, direksi kami aktif melakukan roadshow ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Dari sana kami banyak mendapat komitmen kontrak penjualan baru," papar Presiden Direktur ERTX Surojit Ghosh kepada wartawan dalam paparan publiknya di Galeri BEI, Jakarta, kemarin.
Melalui roadshow tersebut, lanjutnya, perseroan mendapat pembeli-pembeli baru seperti, Tom Tailor, Mexx, Vans, Phillip Van Housen, dan Esprit. Selain itu, perseroan juga berencana untuk melakukan peningkatan kapasitas produksi, dari yang sebelumnya 22 lines menjadi dua kali lipat.
"Sehingga kami harap rugi Rp30,5 miliar tahun depan kami harapkan impas. Untuk tahun depan perseroan juga menargetkan dapat meningkatkan penjualan menjadi USD3 juta per bulan," tambahnya.
Sekadar informasi, pada semester I-2010 perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp99,57 miliar atau anjlok 35,31 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp153,93 miliar.
Penurunan tersebut disebabkan penjualan perseroan dari sektor ekspor yang menurun sebesar 36,52 persen menjadi Rp97,49 miliar dibandingkan periode yang sama di 2009 sebesar Rp153,58 miliar.
Namun, hingga semester I-2010 pendapatan perseroan masih ditunjang oleh penjualan dari sektor ekspor sebesar 97,87 persen atau senilai Rp97,49 miliar dan sisanya 2,13 persen atau senilai Rp2,07 miliar berasal dari penjualan dalam negeri.
Selain itu, di semester I-2010 perseroan masih mengalami rugi bersih menjadi Rp6,67 miliar dibandingkan sebelumnya Rp7,98 miliar atau turun 16,4 persen. Sehingga, jumlah aset perseroan di semester I-2010 sebesar Rp102,27 miliar atau turun 38,74 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp166,95 miliar.
Sebelumnya, perseroan telah melakukan penjualan aset antara lain berupa gedung kantor di Surabaya senilai Rp12,727 miliar. Penjualan aset ini disebabkan karena perseroan masih memiliki modal kerja negatif dan jumlah kewajiban yang melebihi 80 persen aset perseroan.