Integrasi dengan ASEAN, Pasar Modal RI Harus Untung

Yuni Astutik, Jurnalis
Selasa 14 Desember 2010 14:39 WIB
Logo ASEAN. Dok ASEAN
Share :

JAKARTA - Wacana adanya perdagangan bursa Indonesia yang terintegrasi dengan kawasan ASEAN mempunyai banyak tantangan dan banyak peraturan yang harus dipersiapkan menuju hal itu.

"Indonesia integrasi dengan ASEAN, pastinya tidak mau dirugikan. Malah harusnya bisa mendapat untung," tukas Ketua Asosiasi Pengusaha Efek Indonesia (APEI) Lily Widjaja, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (14/12/2010).

Indonesia saat ini telah mempersiapkan diri demi menuju menjadi masyarakat ekonomi ASEAN, agar investor asing bisa berinvestasi ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya, emiten-emiten juga bisa bergabung dalam pasar modal ASEAN itu.

"Dari 2010-2015 memang tidak banyak waktu. Namun saat ini kita telah melakukan apa saja yang harus diperbaiki, sehingga pada saatnya nanti semua sudah siap," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) mengungkapkan bila Indonesia tidak akan ikut dalam ASEAN Linkage dalam waktu dekat karena keikutsertaan dalam ajang ini dinilai belum menguntungkan Indonesia.

“Untuk sementara ini, saya melihat (Asean Linkage) belum menguntungkan Indonesia,” kata Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, jika Indonesia ikut perdagangan bursa terintegrasi di kawasan ASEAN ini, maka perusahaan-perusahaan asing yang membuka cabang di dalam negeri akan menarik diri dan mengalihkan cabangnya ke negara ASEAN yang dianggap lebih menguntungkan.

Pasalnya, dengan ikut linkage ini, maka bursa domestik bisa diakses negara yang tergabung dalam ASEAN Linkage. “Artinya, mereka tidak perlu buka perusahaan di sini. Misalnya, CIMB bisa menutup perusahaan di sini, kemudian buka di Singapura. Saya tidak mau karena kalau mau bisnis di sini harus buka perusahaan di sini,” tutur dia.

Hal itu merugikan Indonesia. Pasalnya, menurut Fuad, jika perusahaan asing membuka cabangnya di Indonesia, maka perusahaan asing tersebut akan memberikan konstribusi kepada negara lantaran perusahaan asing akan membayar pajak kepada pemerintah.

Dia menambahkan, belum siapnya Indonesia bersaing dengan negara Asean lainnya dalam Asean Linkage lantaran pasar modal dan ekonomi Indonesia masih dalam fase tumbuh, sedangkan negara lainnya seperti Singapura sudah maju.

Sebagai perbandingan, Singapura memiliki fasilitas yang lebih bagus dan pajak yang lebih rendah dibandingkan Indonesia. Pajak di Singapura tercatat hanya sekira 18 persen, sedangkan di Indonesia mencapai 25 persen.

Selain itu, dengan penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa, jumlah investor masih dalam jumlah ratusan ribu, sedangkan Singapura dengan penduduk sekira tujuh jutaan, jumlah investor mencapai empat jutaan. Karena berbagai pertimbangan itu, Indonesia sebagai negara besar akan lebih dulu mempersiapkan diri agar bisa bersaing dalam Asean Linkage.

“Pada saatnya nanti, kalau market kita sudah besar, broker kita besar baru kita bisa. Selain iu, jika mereka (perusahaan asing), seperti CIMB sudah terikat dengan kita, kalau dia keluar akan rugi. Jadi, biar mereka kembangkan usahanya dulu, sehingga terikat menjadi bagian dari ekonomi kita,” paparnya.

Kendati demikian, dia tidak menyebut kapan Indonesia akan siap ikut ASEAN Linkage. Sebelumnya, Indonesia berencana akan bergabung dalam ASEAN Linkage pada tahun ini, kemudian mundur menjadi 2013.

Namun, menurut dia, pada tiga tahun mendatang, kemungkinan itu bisa saja tidak terealisasi. “Sekarang saya tidak mau gabung dulu. Kita lihat pada 2013, apakah menguntungkan kita. Kalau menguntungkan, baru ikut,” imbuh dia.

Adapun, lima negara Asean, yang sudah menandatangani keikutsertaan dalam ASEAN Linkage, yakni Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya