Brand Religion dan Logo Baru Starbucks

Koran SI, Jurnalis
Minggu 09 Januari 2011 11:31 WIB
Ilustrasi
Share :

DUA hari lalu seorang teman di Twitter memberikan link sebuah berita mengejutkan: “Starbucks unveils new logo....”. Awalnya agak ragu memercayai tweet tersebut mengingat logo Starbucks sudah menjadi ikon gaya hidup Amerika, sejajar dengan logo Coca Cola, Nike, atau McDonalds yang rasanya sulit diubah.

Namun, begitu diklik, betul adanya.Logo Starbuck sudah berubah. Di situ terpampang gambar empat kali perubahan logo Starbucks selama 40 tahun perjalanan bisnisnya, mulai dari logo tahun 1971, 1987, 1992 hingga terakhir 2011.

Logo baru ini rencananya sudah nempel di cangkir-cangkir Starbucks bulan Maret mendatang bersamaan dengan 40 tahun usia kedai kopi ini. Logo baru Starbucks memang tak banyak berubah. Hanya garis lingkaran luar dan dalam berikut tulisan “Starbucks” dan “Coffee” dihilangkan sehingga yang tersisa hanyalah Siren alias putri duyung dengan rambut yang menjuntai dan ekor di kanan-kiri.Warna hijau tetap dipertahankan.

Walaupun selintas logo tak berubah banyak, saya termasuk orang yang kecewa dengan perubahan logo tersebut. Kenapa? Karena garis lingkaran dan tulisan “Starbucks’ dan “Coffee” merupakan elemen dasar dari logo Starbuks yang ikonik tersebut.

Saya melihat, dengan logo baru, Starbucks seperti kehilangan rohnya.Kopi adalah roh Starbuck. Rupanya saya tidak sendiri. Menyusul penerbitan logo baru tersebut, kemarahan dan protes serentak dilakukan oleh para konsumen fanatik Starbucks di seluruh dunia.

Mereka meluapkan kejengkelan dan kemarahan melalui situs resmi jaringan kedai kopi asal Seattle itu. “Siapa orang dungu di balik departemen pemasaran yang mengganti logo tersebut...,”begitu bunyi salah satu komentar.

Ada komentar pedas lain, “Ini adalah penghamburan waktu, energi, dan uang.” Bahkan,ada juga yang meminta penggantian itu dibatalkan. “Dengarlah konsumen Anda dan hentikan mencetak logo baru ini di cangkir-cangkir Starbucks.” Saya meyakini protes logo baru ini melalui jejaring sosial Facebook dan Twitter bakal terus berlanjut.

Secara logika bisnis, perubahan logo Starbucks memang beralasan. Setelah selamat melewati krisis 2008–2009 yang ditandai penutupan gerai dan PHK karyawan, Starbucks mulai melakukan diversifikasi dengan masuk ke area-area bisnis baru di luar kopi seperti teh, es krim,smoothies,makanan,bahan makanan,dan bahkan musik. Karena alasan itulah Starbucks menanggalkan kata “Coffee”di logonya.

Penghilangan dua garis lingkaran konsentris juga merupakan simbolisasi bentuk “pembebasan” bisnis Starbucks dari sekadar kopi ke lini bisnis lain.Itu semua adalah alasan rasional dan argumentatif dari manajemen Starbucks. Tapi, celakanya, “hubungan batin” konsumen fanatik Starbucks sering kali tak bisa dinalar secara rasional. Sulit rasanya membayangkan Starbucks tanpa kopi.

Brand Religion

Perubahan logo Starbucks menjadi pelik karena logo tersebut memiliki tempat yang sangat khusus di hati para konsumen fanatiknya di seluruh dunia.Saya melihat “kekeramatan”logo Starbucks menyamai logo-logo legendaris seperti Coca-Cola, Harley-Davidson, atau McDonalds. Jesper Kunde, seorang pakar branding, menyebutnya dengan istilah ekstrem: brand religion.

Menurut Kunde, brand religion adalah capaian tertinggi sebuah merek. Ia adalah ultimate destination of a brand.Anda boleh mencapai brand awareness tinggi dan brand loyalty kuat. Anda juga boleh memiliki brand values dan brand culture yang kokoh.Tapi itu semua belum mencapai kulminasi kalau belum mencapai level brand religion.

Brand religion
adalah sebuah posisi di mana merek Anda sudah menjadi “agama” bagi konsumen. Bagi konsumen, merek semacam ini sudah menjadi “kepercayaan” di mana di atas kepercayaan tersebut terbangun sebuah “ikatan spiritual” antara merek dan konsumen. Akhirnya, ketika merek telah mencapai level ini, ia akan mendapatkan “kemewahan” yang tak akan didapat pesaing berupa customer involvement yang amat tinggi, loyalitas, dan fanatisme yang tak akan mungkin tertandingi oleh pesaing.

Harley-Davidson, Nike,Virgin, Apple,MTV, Body Shop, atau Disney adalah sangat sedikit merek yang memperoleh kemewahan itu. Merek-merek tersebut memiliki jutaan pengikut dan evangelist yang siap membela sampai titik darah penghabisan. Para evangelist Harley-Davidson misalnya sampai men-tatto lengan mereka dengan logo Harley kebanggaannya.

Pertanyaannya, akankah Starbucks mendengarkan “suara hati” konsumennya dengan menarik kembali logo baru atau tetap nekat meneruskannya? Bulan Oktober 2010 lalu Gap, peritel produk baju top Amerika, melakukan blunder dengan mengubah logonya yang telanjur mengklasik (“blue box” logo). Serta-merta Gap menuai badai kritik di Facebook dan Twitter begitu logo baru meluncur.

Akibatnya, dalam waktu kurang dari seminggu logo baru ditarik dan Gap tetap mempertahankan logo yang lama. Menariknya,Nike dan Apple pernah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Starbucks sekarang dan sukses. Nike menanggalkan kata “Nike” di logo swooshnya, sementara Applemenanggalkan kata“Apple”dan“Computer”.

Yang terakhir ini dilakukan Apple karena memang mereka sudah tidak lagi melulu memproduksi komputer, tapi juga masuk ke lini bisnis lain seperti gadget telefoni, tablet, atau musik digital. Apple sukses dengan modifikasi logo ini sehingga saat ini Apple tak hanya dikenal sebagai produsen komputer, tapi juga iPod, iPhone ataupun iPad yang lebih cool.

Akankah Starbucks bisa sesukses Nike dan Apple dengan logo barunya? Saya adalah salah satu dari jutaan Starbucks evangelist yang tidak begitu sreg dengan tampilan logo baru Starbucks.Walaupun secara logika bisnis perubahan logo tersebut begitu beralasan, entah kenapa, saya tetap merasakan penghilangan elemen-elemen penting logo tersebut menjadikan merek legendaris itu kehilangan rohnya.

Dan saya berdoa semoga Howard Schultz sang CEO sekaligus pendiri Starbucks mendengar “suara hari” para konsumen fanatiknya dengan menarik logo baru tersebut. Hehe,tulisan ini seharusnya diberi judul: “Curhat Seorang Starbuck Evangelist!” (*)

YUSWOHADY
Pengamat Bisnis dan Pemasaran


(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya