JAKARTA - Pembangkit listrik panas bumi terus menarik investasi di Indonesia dan Filipina, tetapi tingkat pertumbuhan pasar diperkirakan akan bersifat moderat antara lima sampai delapan persen.
"Menurut crash program 10.000 MW kedua yang diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia, pembangkit tenaga listrik tenaga geotermal telah menjadi prioritas utama," tandas Program Manager the Energy & Power Systems Practice Asia Pacific Frost & Sullivan Suchitra Sriram, dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat (18/2/2011).
Namun tingkat keberhasilannya masih harus terus dipantau karena beberapa proyek belum mendapatkan izin lingkungan dan menghadapi perlawanan dari kelompok-kelompok pecinta lingkungan karena sumur panas bumi berada di kawasan hutan.
Menurut Consultant Energy & Power System Frost & Sullivan Indonesia Pradi Wigianto, listrik adalah satu-satunya infrastruktur dasar yang menjadi perhatian pemerintah. Jika dibandingkan dengan dengan pelayanan air dan pengelolaan limbah, infrastruktur dasar Indonesia sangat terbatas.
Ini berarti bahwa pemerintah Indonesia sangat fokus untuk menyediakan listrik karena permintaan telah hamper melebihi kapasitas. Dengan melihat fluktuasi harga minyak baru-baru ini, dan produksi batu bara dan gas yang mulai memasuki tren mature, RE akan menjadi satu-satunya cara bahwa pemerintah dapat memberikan kebutuhan Indonesia dalam produksi listrik dalam waktu dekat.
Pradi mengungkapkan, sistem listrik Indonesia telah mencapai batas aman pasokan pada 2006, yang mendorong pemerintah untuk segera mengambil tindakan dalam upaya memenuhi kapasitas listrik.
Untuk itu pemerintah Indonesia mencanangkan program “Akselerasi 10.000 MW” yang memanfaatkan lebih banyak RE sebagai sumber daya pada tahap kedua. Sekira 48 persen dari program “Akselerasi 10.000 MW” tahap kedua ditargetkan untuk dihasilkan dari sumber daya geothermal.
"Investasi RE utama Indonesia adalah sumber daya geothermal dan biomassa. Sumber daya potensial lainnya adalah tenaga air, namun peluang investasinya masih menghadapi berbagai masalah seperti minimnya insentif dan masalah birokrasi, dan juga menghadapi tantangan investasi seiring dengan rencana China yang sedang mengembangkan pembangkit tenaga air raksasa mereka,” ungkap Pradi.
Sesuai dengan trend geothermal, Pradi menambahkan, biomassa merupakan sumber daya yang terus dikembangkan di Indonesia. Sumber daya biomassa memiliki kapasitas tinggi yang pada awal 2010 mencapai 445 megawatt equivalen (MWe).
Pada 2011, pemerintah Indonesia yang telah menjalin kerja sama dengan pemerintah Finlandia telah menunjuk Kalimantan Tengah dan Riau sebagai daerah pabrik percontohan proyek energi Biomassa.
"Dua daerah tersebut dipilih karena banyaknya kayu dan limbah tanaman sebagai sumber energi biomassa,” tutup Pradi.