BANGKOK - Wakil Presiden Direktur Alfaria Trijaya Pudjianto menjelaskan, secara keseluruhan, industri ritel nasional siap untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015 mendatang.
Pudjianto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo) optimistis, ritel nasional bisa bersaing dengan ritel negara lain. Hypermart, lanjutnya, paling tahu mengenai kebutuhan konsumen di Indonesia. Hypermart Indonesia juga didukung oleh teknologi yang memadai.
"Jadi kita bisa bersaing. Begitu juga dengan supermarket. Pertumbuhan mini market juga harus didorong karena di luar negeri tidak ada. Bahkan, Jepang dan India mau meniru kita," kata Pudjianto, di Bangkok, akhir pekan lalu.
Namun sayangnya, kata dia, industri ritel nasional masih terkendala masalah tingkat suku bunga yang tinggi. "Selain itu, kita belum bisa menyatukan yang namanya pasar tradisional dan modern. Seharusnya pasar tradisional dimodernkan," imbuhnya.
Selain itu, kata dia, pemerintah juga harus mengatasi masalah lahan, transportasi, kebijakan perpajakan, serta memberikan treatment khusus pajak bagi sektor UKM.
"Karena bea masuk (BM) itu nol persen untuk barang konsumen. Tiga negara yang mempunyai daya beli tertinggi di dunia adalah China, India, dan Indonesia. Potensi daya beli meninggi di dunia. Indonesia tidak bisa lindungi produk yang umum. Tapi seharusnya ditingkatkan kualitas produk khusus seperti batik," imbuhnya.
Sementara itu, lanjut Pudjianto, perseroan mengalokasikan dana sekitar Rp960 miliar pada tahun ini yang antara lain digunakan untuk penambahan gerai dan pusat distribusi (distribution centre/DC).
Dana tersebut, kata dia, sebagian besar diambil dari dana kas internal dan belum memerlukan tambahan pendanaan dari luar seperti pinjaman bank ataupun melakukan aksi korporasi lainnya seperti menerbitkan surat utang (obligasi) dan penerbitan saham baru (right issue).
“Dana kami kebanyakan internal, ada bank loan tapi jumlahnya sangat kecil dan saya lupa berapa. Sampai saat ini kami juga belum ada rencana aksi korporasi untuk menambah dana ekspansi. Bank loan juga sudah ada yang menawarkan tetapi saya rasa belum perlu,” jelas Pudjianto.
Pudjianto memproyeksikan, pertumbuhan penjualan perseroan pada kuartal II/2011 bisa mencapai di atas 10 persen. “Kuartal I kami memang tumbuh kurang dari 10 persen, tapi kuartal II ini kami perkirakan bisa lebih dari itu. Target pertumbuhan akhir tahun juga sepertinya akan tercapai karena bisnis kami sangat seasonal. Kuartal I itu lambat, kuartal II dan III akan naik seiring dengan adanya lebaran, kuartal IV sedikit turun tapi masih oke,” jelasnya.
Di sisi lain, seperti diketahui, perseroan berencana untuk melakukan ekspansi ke Vietnam, namun rencana tersebut belum bisa terealisasi karena terkendala aturan di negara itu.
Melihat kondisi itu, Direktur Corporate Affairs Sumber Alfaria Trijaya Solichin mengatakan, perseroan akan fokus untuk mengembangkan usaha di dalam negeri.
Solichin mengatakan, saat ini, pihaknya tengah melakukan uji coba untuk memperbaharui (upgrade) warung tradisional. Perseroan mengalokasikan dana sekira Rp1,5 miliar untuk upgrade pengelolaan sekira 100 warung tradisional di sekitar Jakarta. Adapun dana untuk program tersebut diambil dari dana Corporate Social Responsibility (CSR).
"Sejak awal tahun kami lakukan uji coba upgrade warung. Kami melihat mereka memiliki potensi untuk berkembang namun perlu perbaikan dalam pengelolaan keuangan. Harus lebih profesional. Jadi upgarde ini termasuk renovasi dan pendampingan. Ini juga salah satu cara kami merangkul UKM. Untuk upgrade satu warung kami butuh sekitar Rp15 juta- Rp20 juta, dan itu dari dana CSR," kata Solichin.
Untuk menjalankan program itu, kata dia, perseroan melakukan kerja sama dengan pihak terkait lainnya, seperti Kementerian Koperasi dan UKM.
Solichin menilai, warung tradisional dan ritel modern dapat berjalan beriringan dan tidak mematikan satu sama lain. Karena, masing-masing memiliki segmentasi yang berbeda. Solichin mencontohkan, di Thailand, ritel modern dan tradisional dapat beroperasi di satu tempat yang sama tanpa ada yang mengeluhkan persaingan.