JAKARTA - Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) memprediksikan, produksi kopi nasional pada tahun ini akan mencapai 600 ribu ton. Angka itu mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Ketua Umum AEKI Suyanto Husein mengatakan, produksi kopi nasional pada tahun lalu adalah sekira 640 ribu ton.
Sebenarnya, kata Suyanto, pada awal tahun ini, produksi ditargetkan bisa mencapai 700 ribu ton. Namun, lanjutnya, target itu direvisi karena kondisi cuaca yang belum bagus dan masih banyak tanaman kopi yang sudah tua. Sehingga, menurut Suyanto, produksi di beberapa daerah juga menurun. Saat ini, kata Suyanto, sebesar 90 persen dari total 1,2 juta hektare (ha) lahan kopi di Indonesia dikelola oleh petani kecil.
"Kami akan menjalin kerja sama dengan kementerian terkait untuk menyediakan lahan yang lebih luas bagi petani. Supaya 10 tahun ke depan produksi bisa mencapai 900 ribu-1,2 juta ton. Kami juga ingin meningkatkan kuantitas dan kualitas dengan memperluas lahan dan penggunaan pupuk organik," kata Suyanto di Jakarta pada akhir pekan lalu.
Suyanto menuturkan, upaya peningkatan produksi kopi diharapkan bisa sejalan dengan pertumbuhan konsumsi kopi nasional. Termasuk, lanjut dia, untuk mewujudkan pengembangan industri hilir kopi di dalam negeri. Rencana itu, kata dia, sudah dibahas bersama Menteri Perindustrian MS Hidayat.
"Kita berharap, konsumsi kopi di dalam negeri terus naik. Saat ini, memang sudah tumbuh dan menjadi bagian dari gaya hidup. Tampak dari perkembangan coffee shop," ujar Suyanto.
AEKI mencatat, saat ini, Indonesia merupakan produsen kopi ketiga terbesar di dunia, setelah Brazil dan Vietnam. Sedangkan, ekspor kopi Indonesia pada tahun 2010 adalah 443 ribu ton atau senilai USD791,76 juta.
"Saat ini, permintaan kopi di dunia tinggi. Harganya juga mulai tinggi. Seandainya 10 persen saja penduduk Indonesia yang minum hingga tiga cangkir kopi per hari, produksi kita habis diserap lokal," kata Wakil Ketua Umum AEKI bidang Spesialti dan Industri Kopi Pranoto Soenarto.
Maka dari itu, lanjut dia, program peningkatan produksi dengan pengembangan lahan, harus difokuskan kepada petani. Sehingga, bisa menikmati pertumbuhan pasar kopi dunia.
"Kalau bisa, industri-industri perusahaan kopi skala besar-menengah tidak usah investasi di lahan lagi. Kita ajukan penambahan lahan petani saja. Jadi, industri di dalam negeri membeli dari petani," ujar Pranoto.
(Andina Meryani)