JAKARTA - Produsen ban nasional, PT Gajah Tunggal Tbk, menargetkan penjualan sebesar USD2 miliar pada 2016 mendatang. Presiden Direktur Gajah Tunggal Christopher Chan Siew Choong mengatakan, angka itu naik dari realisasi penjualan hingga tahun lalu yang mencapai USD1 miliar.
"Kami memiliki visi strategis dalam lima tahun mendatang. Katakanlah, pada 2016, penjualan kami bidik mencapai USD2 miliar. Untuk itu, kami membutuhkan semua strategi dan dukungan. Terutama, kerjasama maksimal antara asosiasi atau industri dan pemerintah. Kami ingin Gajah Tunggal jadi kebanggan Indonesia di pasar lokal dan global," kata Christopher usai menemui Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Rabu (20/7/2011).
Untuk itu, lanjut dia, Gajah Tunggal melakukan investasi yang substansial. Saat ini, kata dia, Gajah Tunggal tengah memfinalisasi ekspansi pabrik yang dijadwalkan akan beroperasi efektif tahun 2012. Dalam lima tahun terakhir, kata dia, investasi yang telah ditanamkan oleh Gajah Tunggal adalah sekitar USD200 juta.
"Setelah 2012-2013, apakah berhenti atau lanjut? Kita fokus pada sustainable growth, yakni ada awareness atas merek Gajah Tunggal. Sebab, potensi bertumbuh di Indonesia sangat besar. Terutama, jika proyek-proyek infrastruktur direalisasikan. Didukung kekayaan sumber daya alam karet. Intinya, kami akan mengambil semua opsi jika memungkinkan. Masalah waktu saja," jelas Christopher.
Menurut dia, setelah ekspansi rampung tahun 2012-2013, maka Gajah Tunggal akan fokus untuk melanjutkan ekspansi dengan nilai investasi setidaknya mencapai USD20 juta per tahun yang akan digunakan untuk membeli mesin-mesin baru.
Gajah Tunggal, kata Christopher, menargetkan produksi ban radial untuk jenis kendaraan mobil penumpang mencapai 45 ribu unit per hari atau sekira 15 juta unit per tahun. Sementara untuk ban sepeda motor, produksi ditargetkan 105 ribu unit per hari atau sekitar 35 juta unit per tahun pada 2013, atau naik dari produksi saat ini yang sebesar 65 ribu-70 ribu unit per hari. Untuk ban bias khusus truk dan bis sebesar 12 ribu unit per hari atau sekira empat juta unit per tahun.
"Untuk itu, kita berharap dukungan pemerintah menghadapi pasar global, seperti Asean. Ketika manufaktur di negara sekitar mendapat insentif, ditambah tidak adanya hambatan tarif atau nol persen itu adalah semacam ancaman. Ketika produk mereka masuk ke pasar kita," papar Christopher.
(Andina Meryani)