JAKARTA - Adanya indikasi Yunani mengalami default atau gagal bayar karena Jerman memilih menyerah membantu krisis utang Yunani, membuat pergerakan rupiah diprediksi akan melanjutkan tren pelemahan dalam perdagangan kali ini.
Analis valas, Lana Soelistyaningsih menuturkan, disaat situasi volitale seperti ini para investor cenderung mencari aman, dengan memilih untuk memegang uang tunai berupa dolar Amerika Serikat (AS), karena dinilai mengandung risiko yang paling kecil bila dibandingkan dengan memegang mata uang negara lainnya.
Buktinya saat ini sejumlah mata uang regional terlihat melemah atas USD. "Untuk kali ini, rupiah akan diperdagangkan dikisaran Rp8.625-Rp8.635," ungkap Lana kepada Okezone di Jakarta, Rabu (14/9/2011).
Ditambahkan, kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, menurunkan koridor batas bawah fasilitas deposit perbankan sebanyak 100 bps, dari semula 6,75 persen menjadi 5,75 persen, membuat likuiditas rupiah semakin banyak. Imbasnya, mengakibatkan rupiah diikuti oleh tren pelemahan. Belum lagi sekarang ini aliran dana asing yang masuk pun cenderung sedikit.
"Bila aliran dana asing banyak yang masuk, maka kebijakan ini tidak akan berdampak apa-apa bagi rupiah, namun jika sebaliknya rupiah bisa saja mengalami pelemahan. Walaupun, tetap saja faktor utama datang dari global. Cuma kali ini faktor dari dalam negeri pun ikut andil terhadap tren pelemahan ini," pungkasnya.
Seperti diketahui, Kurs tengah Bank Indonesia (BI), Selasa (13/9/2011) mencatat rupiah diperdagangkan pada Rp8.622 per USD, melemah 19 poin pada sesi sebelumnya, yakni Rp8.603 per USD. Menurut yahoofinance, rupiah diperdagangkan di level Rp8.697,5 dengan kisaran harga Rp8.552,5-8.702,5 per USD. (mrt)
(Rani Hardjanti)