JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengatakan ketidakjelasan krisis di Eropa ikut menyeret lemahnya rupiah beberapa hari ini. Pasalnya tekanan pasar uang Eropa memberikan imbas terhadap lemahnya rupiah.
"Resolusi belum jelas, jadi ada tekanan di pasar keuangan Eropa yang berimbas ke rupiah, kan semua juga gitu," ungkap Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo, ketika ditemui seusai acara seminar Sabang Merauke Circle (SMC), di Hotel Le-Meridien, Jakarta, Senin (19/9/2011).
Oleh karena itu, menurut Perry, bank sentral akan tetap menjaga agar volatilitas rupiah tidak bergejolak. Dia mengaku ada ukuran internal untuk menjaga stabilitas rupiah.
Lebih lanjut dia menjelaskan bank sentral dalam menjaga rupiah agar tidak bergejolak adalah dengan menjual cadangan devisa yang dalam bentuk dolar, dan hasil lebih dari penjualan ini akan dibelikan kepada SBN.
"Kita jual dolar untuk stabil, sisi lain biar rupiah tidak banjir itu kita belokkan ke SBN. Jadi mandat kita yang utama adalah menjaga stabilnya rupiah. Nah itu kita belikan SBN, yang kita lakukan selama ini beli di pasar sekunder secara bilateral," tambah Perry.
Lebih lanjut dia mengatakan upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar adalah sebuah mandat dan bank sentral akan tetap menjaga stabilitas rupiah dipergerakan itu. "Itu kita jual USD dengan cadangan devisa, jadi saat ini kita jauh dari cukup. Itu ada kan untuk impor, utang, reversal, tekanan tekanan itu juga," pungkasnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)