JAKARTA - Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo menekankan perlu adanya pengawasan ketat soal cost recovery.
"Saya setuju harus ada pengawasan yang ketat soal cost recovery ini. Perlu ada pemilahan mana cost recovery yang harus dikembalikan, mana yang tidak perlu. Bagaimanapun, tanpa investasi industri migas ini tidak akan berjalan," kata Evita usai Coffe Morning dengan para stakeholder industri migas di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (21/9/2011).
Evita mengakui, Sampai sekarang memang masih ada perbedaan pengertian antara pemerintah dengan para pelaku dunia migas. Pengusaha-pengusaha migas melihat cost recovery sebagai investasi yang kemudian akan diganti pemerintah. Sementara, pemerintah melihatnya sebagai beban yang harus ditanggung.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pemahaman cost recovery harus diubah dari beban, menjadi investasi minyak dan gas (migas). Pasalnya, pemahaman ini memberikan tekanan pada investasi yang terjadi di Indonesia.
Dikatakannya, harus ada perbaikan cost recovery guna meningkatkan dan menjamin produksi minyak dan gas bumi. Sehingga, lanjut dia, masalah tumpang tindih lahan dapat dibenahi.
"Itu semua dalam Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) itu sudah ada, yang menghambat kita lakukan perubahan," imbuhnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)