Ironis, Utang Nelayan ke Pengijon Capai Rp300 Jt

Erika Lia, Jurnalis
Senin 24 Oktober 2011 16:37 WIB
Ilustrasi
Share :

CIREBON - Masih tingginya ketergantungan nelayan tradisional Kota Cirebon kepada bakul (pengijon) telah menyebabkan utang hingga sekira Rp300 juta.

Jumlah tersebut merupakan pinjaman dari sekira 150 nelayan tradisional yang aktif. Kondisi itu juga telah mengakibatkan tiga dari empat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kota Cirebon tidak aktif. Sebagian besar nelayan lebih memilih menjual ikannya kepada pengijon.

Kepala Seksi Perikanan Bidang Kelautan Perikanan Dinas Kelautan Perikanan Peternakan dan Pertanian (DKP3) Kota Cirebon Dedi Supriadi menyebut, jumlah hutang nelayan tradisional terutama kepada beberapa pengijon terbesar di beberapa tempat pelelangan ikan. "Hal ini ternyata menjadi hambatan bagi pembangunan nelayan skala kecil (small scale fisheriesh) dalam kegiatan usahanya,” tutur dia, di Cirebon, Senin (24/10/2011).

Ketergantungan nelayan kepada pengijon memang tak dapat dihindari. Menurutnya, nelayan memilih pengijon karena tidak berjalannya koperasi nelayan. Koperasi nelayan pun tidak berjalan karena tidak ada modal, ditambah rendahnya sumber daya manusia dalam pengelolaan koperasi. Pengijon, lanjutnya, berkembang karena nyatanya nelayan membutuhkan mereka.

"Keberadaan pengijon bagi nelayan justru di satu sisi dirasa lebih bermanfaat pada beberapa kepentingan. Contohnya, nelayan tidak perlu mengikuti prosedur rumit saat harus meminjam uang cepat-cepat kepada pengijon dibanding kepada bank yang membutuhkan agunan. Mereka kan tidak punya agunan," jelas dia.

Sejauh ini, rata-rata pengijon berasal dari luar Kota Cirebon. Untuk meminimalisir ketergantungan nelayan kepada pengijon, tambah dia, dibutuhkan koperasi yang sehat dan handal.

"Kendala akibat tidak adanya modal bisa diatasi dengan bermitra bersama pengusaha yang pro-rakyat. Dari sisi kepengurusan, dibutuhkan political will dari para pengelolanya agar koperasi dijalankan dengan sehat. Bantuan yang datang untuk koperasi, harus disadari merupakan kebutuhan bersama dan bukannya digunakan untuk kepentingan pribadi pengurusnya," papar dia.

Terpisah, salah seorang nelayan di Samadikun, Kota Cirebon, Sayuti, mengakui tak sedikit pengijon di daerah tempatnya tinggal menjadi andalan bagi kalangan nelayan seperti dirinya.

"Kalau jual kepada pengijon, uangnya cepat. Tapi memang kemudian akhirnya merugikan kami karena bunganya cukup tinggi,” ungkap dia seraya menambahkan dirinya tidak termasuk nelayan yang tergantung kepada pengijon.

(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya