Perdagangan Makin Kompetitif

Wisnoe Moerti, Jurnalis
Selasa 25 Oktober 2011 15:07 WIB
Ilustrasi. Corbis.
Share :

JAKARTA - Persaingan di antara pelaku usaha dalam kerangka perdagangan internasional semakin kompetitif di tengah berbagai kesepakatan mengenai perjanjian perdagangan bebas (free trade aggrement/FTA).

Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai perjanjian perdagangan bebas, sesungguhnya dilakukan untuk meminimalisir defisit neraca perdagangan dengan negara lain yang membuat surplus perdagangan semakin tergerus. Pada periode Januari-Juli 2011, surplus perdagangan hanya tercatat USD16,40 miliar.

Tergerusnya surplus perdagangan dan masih cukup besarnya defisit dengan negara lain, tidak serta merta merujuk pada dampak buruk dari berbagai perjanjian perdagangan bebas bagi kinerja perdagangan Indonesia. “Jadi jangan salah, FTA merupakan peluang perluasan pasar dan tantangan,” ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Agus DW Martowardojo di Jakarta, Selasa (25/10/2011).

Dia mengatakan, Indonesia terlibat dalam berbagai perjanjian perdagangan bebas. Umumnya, keterlibatan Indonesia lantaran berada dalam kawasan Asia Tenggara. Menkeu menyebutkan berbagai perjanjian perdagangan bebas yang melibatkan Indonesia antara lain Asean-China Free Trade Aggrement (ACFTA), Asean dengan Korea, Asean dengan India, dan terakhir yang baru saja ditandatangani adalah Asean dengan Asutralia dan New Zaeland. Khusus untuk perjanjian perdagangan yang belum lama disepakati tersebut, pemerintah memiliki catatan yang perlu diperhatikan dunia usaha sebagai bahan pertimbangan.

Implementasi perdagangan antara Indonesia dengan Asutralia dan Newa Zaeland, selama tiga tahun berturut-turut selalu mencatatkan defisit. Kementerian Keuangan mencatat, defisit antara Indonesia dengan Australia sejak tahun 2008-2010 berturt-turut sebesar USD1,9 miliar, USD1,6 miliar, dan USD1,3 miliar. Besarnya defisit perdagangan dengan Australia lantaran tingginya impor barang konsumsi primer seperti daging sapi, susu, dan produk pertanian lainnya.

Sedangkan defisit dengan New Zaeland sejak 2008 hingga 2010 berturut-turut tercatat sebesar USD409 juta, USD375 juta dan USD363 juta. Kontribusi defisit neraca perdagangan dengan New Zaeland umumnya juga berasal dari sektor primer seperti susu dan produk pertanian buah-buahan.

Dengan gambaran tersebut, Menkeu mendorong agar dunia usaha bisa bersaing dengan pengusaha asing dalam percaturan perdagangan internasional. “Kesiapan pengusaha untuk menghadapi perdagangan FTA. Kami undang pikirkan bagaimana Indonesia bisa lebih kompetitif,” tegasnya.

Mantan Dirut Bank Mandiri ini mengatakan, perjanjian kerja sama perdagangan bebas idealnya dipandang sebagai sebuah tantangan. Dia meyakini, FTA merupakan peluang untuk memperluas pasar dan tantangan. Selain berusaha memperluas pasar, perlu juga diperhatikan untuk melindungi pasar dan industri dalam negeri.

Pengembangan kawasan Nusa Tenggara yang memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan sapi pada umumnya, diharapkan bisa meminimalkan impor daging sapi dari Australia. (mrt)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya