Penyelundupan Tekstil China Capai USD500 Juta

Sandra Karina, Jurnalis
Selasa 25 Oktober 2011 16:24 WIB
Ilustrasi. Corbis.
Share :

JAKARTA - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan penyelundupan tekstil dan produk tekstil (TPT) asal China yang masuk ke pasar domestik selama periode Januari hingga Juli 2011 bisa mencapai USD500 juta.

Ketua Umum API Ade Sudrajat Usman mengatakan, pihaknya mengetahui hal itu pada saat bertemu dengan asosiasi tekstil di China beberapa waktu lalu. Menurutnya, nilai perdagangan TPT antara kedua negara selama Januari hingga Juli 2011 mencapai USD1,7 miliar. Padahal, menurutnya, berdasarkan data dari pemerintah Indonesia hanya USD1,2 miliar.

Ade menuturkan data yang dimiliki asosiasi tekstil di China diperoleh dari setiap pelabuhan untuk tujuan Indonesia.

"Berarti, ada transaksi yang tidak terdeteksi. Telah terjadi penyelundupan gila-gilaan dan dibiarkan. Ini yang kami soroti dalam pertemuan itu. Sambil membahas perkembangan perdagangan dalam rangka ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement)," kata Ade di Jakarta, Selasa (25/10/2011).

Ade menilai, meski masalah penyelundupan sudah sering dikeluhkan oleh pelaku usaha, namun pemerintah tidak serius dalam melakukan pengawasan masuknya barang impor di pintu masuk pelabuhan.

"Lalu, apa yang dilakukan Bea dan Cukai? Di sisi lain, pemerintah membuat aturan banyak sekali, bahkan sampai menghambat pelaku usaha usaha. Dan, tidak menyelesaikan PR yang seharusnya. Mereka hanya business as usual," tegasnya.

Ade berharap, pemerintah bisa segera menuntaskan penyelundupan.

"Ini kita bicara baru satu negara dan tidak setahun. Apalagi kalau dari negara lain dan selama setahun. Dari Malaysia dan Vietnam, misalnya. Potensinya bisa lebih besar. Ada yang salah dengan pengawasan pintu masuk kita. Dan, ini dibiarkan," ujarnya.

Sementara, Ade menjelaskan, Asosiasi Tekstil China juga mencatat, dari total nilai perdagangan TPT senilai USD1,7 miliar, Indonesia mengalami defisit hingga USD1,4 miliar.

"Kita ekspor ke China terutama benang. Sedangkan, barang yang masuk dari sana adalah terutama produk jadi. Ditambah penyelundupan, kita semakin tertekan. Akibatnya, kita semakin merugi di CAFTA. Daya saing setiap tahun semakin menurun," tegasnya.

Laporan di pelabuhan muat mencatat, impor pakaian jadi selama Januari-September 2011 mencapai USD125,39 juta. Jumlah itu naik 37,37 persen dibandingkan periode sama di 2010 yang hanya sebesar USD91,28 juta. (mrt)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya