JAKARTA – Pemerintah dihadapkan pada tiga persoalan besar dalam sektor energi nasional yang perlu segera dicarikan solusi konkret menuju kemandirian energi.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengaku, kebutuhan energi di masa yang akan datang semakin besar seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi nasional. Hatta menyebutkan, tiga persoalan di bidang energi antara lain. Pertama, diversifikasi sumber energi dan pola penghematan penggunaan energi.
Karenanya, pemerintah berencana menjalankan kebijakan penghematan energi, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang diberlakukan di pulau Jawa-Bali pada April 2012. Namun, langkah ini tidak menjamin ketersediaan energi dalam negeri mencukupi.
Langkah jangka pendek dan jangka panjang perlu dipersiapkan. Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) cukup besar, khususnya batu bara, gas, dan energi panas bumi, yang perlu dikembangkan sebagai energi alternatif. "Tidak bisa hanya penghematan, tetap harus diversifikasi karena pertumbuhan kita makin tinggi. Gas bisa menjadi solusinya,” jelas Hatta di Jakarta, Senin (28/11/2011).
Persoalan kedua, adalah perbaikan pada sisi kemampuan produksi energi nasional. Dalam hal ini, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang berat mengingat kinerja produksi minyak (lifting) nasional tidak pernah mencapai target yang ditentukan.
Hatta mengatakan, pada dasarnya potensi minyak dalam negeri masih cukup besar. Target lifting sebesar satu juta barel per hari diyakini bisa direalisasikan pada 2013.
Ketiga, kebijakan harga energi. Hatta menuturkan, pemerintah tengah menyempurnakan kebijakan harga untuk energi agar tidak terlalu memberatkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Pemerintah berjanji melakukan restrukturisasi pola subsidi.
Di sisi lain, harga listrik di Indonesia juga perlu diperhatikan mengingat biaya pembangkit yang lebih besar dibandingkan harga jual listrik. Rencana menaikkan tarif dasar listrik sebesar 10 persen pada 2012, diklaim sebagai upaya menuju ketahanan energi.
“Sekarang biaya rata-rata untuk produksi listrik sebesar Rp1.000-Rp2.000 sedangkan harga jual antara Rp600-Rp700. Harus dinaikkan karena kalau tidak sulit menaikkan elektrifikasi karena listrik terus tumbuh untuk mendukung ekonomi,” imbuhnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)