JAKARTA - Kementerian Badan usaha Milik Negara (BUMN) menuturkan akan menggunakan teknologi membranisasi pada BUMN-BUMN garam dalam memproduksi garam.
Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan, dengan diterapkannya hal tersebut diharapkan ke depan tidak akan ada lagi impor garam untuk konsumsi.
"Kenapa garam kita jelek, lalu harganya turun dan produksinya sedikit? karena lapisan pertama garam yang diproduksi tersebut bercampur dengan tanah, begitu pun lapisan kedua, sehingga baru pada lapisan ketiga garam baru bagus, dan itu produksinya sudah sedikit. makanya kita akan lakukan membranisasi itu," ungkapnya saat ditemui di Kementerian BUMN, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta , Jumat (16/12/2011).
Dikatakannya, dengan adanya membranisasi itu, produksi garam jauh lebih bagus dan dan bisa lebih cepat produksi. Selain itu, dengan diterapkannya teknologi tersebut diperkirakan produksinya bisa meningkat 20 persen.
"Harga membran itu kan Rp20 juta per hektare (ha). Mungkin dengan adanya membran tersebut akan meningkatkan produksi minimal 20 persen,"paparnya.
Ke depannya dengan adanya hal tersebut, diharapkan tidak ada lagi impor garam untuk konsumsi.
"Keperluan garam kita kan sekira dua juta ton per tahun. Sementara produksi di Madura hanya 200 ribu ton. Kalau tidak impor ya mau gimana lagi. Misalkan dengan adanya membran ini produksi garam bisa meningkat dua kali lipat kan baru 400 ribu ton, masih kurang kan?,"katanya.
"Jadi begini lah, ke depan jangan lagi ada impor garam untuk konsumsi. Yang boleh impor hanya untuk keperluan industri. Misalnya untuk industri kertas dan tambang minyak. Kan itu membutuhkan garam yang sangat banyak, jutaan ton, mungkin sulit untuk memenuhi hal tersebut jika mengandalkan produksi kita sendiri," pungkasnya.
(Rani Hardjanti)