MEMULAI suatu usaha tak perlu harus berbekal modal yang besar dan sangat unik. Apalagi bagi Anda yang baru ingin memulai berbisnis. Lihat sekitar kita dan tangkap apapun peluang bisnis yang bisa Anda kembangkan, satu di antaranya adalah menjual keripik.
Kenapa keripik? Keripik adalah teman segala suasana, bisa buat teman kerja, ngobrol, menonton tv, makan dan lainyya. Maka bisa dibilang, dimana ada kumpulan orang yang ngobrol, maka selalu ada peluang ditemani keripik dan itu berarti selalu ada peluang untuk berbisnis kerupuk.
Peluang ini yang dibaca Joshie Benedict. Berbekal nekat dan uang Rp500 ribu, dia dan kakaknya mencoba peruntungan bisnis di dunia keripik. Berdua mereka mengambil keripik langsung dari produsen keripik di kawasan Cileduk, Tanggerang, tak jauh dari rumahnya. "Aku ambil keripik macam-macam, ada keripik bawang, keripik kulit sapi, keripik singkong balado, kacang telor, kripik singkong rasa rujak dan lainnya. Komplet dan macem-macem karena pertama kali kita kan waktu itu cuma coba-coba dan belum test pasar apa yang mereka senangi," ujar Joshie beberapa waktu lalu kepada okezone.
Bersama kakak perempuannya, mereka bergerilya menembus ketatnya persaingan. Caranya tak perlu susah dan rumit, Joshie menggunakan cara yang paling tradisional, mulut ke mulut. Lewat jaringan pertemanannya di kampusnya. Sedangkan kakaknya menempuh jalur yang berbeda, dititipkan di koperasi kantor."Sederhana, tetapi hasilnya lumayan, tiga bulan pertama sebulan kita bisa laku sekira 30 bungkus per minggu, terus naik terus sampai laku 50 bungkus per minggu," tambah dia.
Berbisnis memang tak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar, Joshie menjual keripik-keripik ini dengan harga sekira Rp1.500-Rp2.500 bagi ukuran kecil, sampai Rp5.000 di ukuran lumayan besar. "Untungnya sekira Rp1.000 per bungkus, enggak banyak tetapi lumayan juga, kalau habis semua sebulan bisa dapat untung sampai Rp300 ribu," lanjutnya.
Meskipun merupakan usaha yang sederhana, jangan kira Joshie dan kakak perempuannya ini tak pernah mendapatkan kesulitan dalam berusaha. Mereka pernah merasakan pahit getirnya usaha keripik yang memperkaya pengalamanya saat berbisnis. "Waktu bulan puasa, sepi kan pasti karena orang-orang enggak ngemil. Saya punya ide jualan keripik di masjid habis orang-orang tarawih, ternyata tetep saja sepi, laku cuma dua bungkus, sedih banget waktu itu," cerita Joshie tetapi sambil tertawa mengenang peristiwa itu.
Bukan hanya Joshie dan kakanya, di Indonesia juga sudah ada pengusaha keripik lainnya yang juga sukses, dia adalah Dimas Ginanjar Merdeka atau yang akrab disapa Bob dengan keripik pedas dan super pedasnya Maicih dari Bandung. Di bulan Juni 2010, berawal dari kesenangannya memakan keripik pedas, Bob kemudian memiliki ide membuka usaha keripik pedas. Akhir 2011 ini, semua orang bisa melihat kesuksesan dari bisnis keripik pedas yang kini kerap menjadi buah tangan pelancong dari Bandung.
Dikutip dari laman resmi keripik Maicih.com, Bayu dengan gamblang menceritakan keberhasilan yang diraihnya sekarang ternyata bermula dari jualan di akun twitter. Hanya dengan sosial media, keripik Maicih mulai tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Medan, Lampung, Jambi dan bahkan Pekanbaru hingga Bali.
Sempat berganti-ganti logo sebagai brand, mulai Juli kemarin, Maicih tampil dengan logo seorang nenek yang tersenyum menggambarkan optimismenya menghadapi dunia. Keunikan keripik Maicih, selai rasa pedasnya yang bertahap mulai dari level 1-10, keripik Maicih asli bernungkus kertas bukan dari plastik seperti kemasan keripik pada umumnya.
Menurut Bob, pemilihan kertas sebagai bungkus digunakan untuk mengedukasi masyarakat pada kelestarian lingkungan. Tak tanggung-tanggung, 20 bungkus paperbag maicih dapat ditukar dengan satu keripik maicih. Gratis! Selain itu, keripik maicih sukses karena kontribusinya pada dunia musik dengan mendukung komunitas indie di kota Bandung.
Mari kreatif berbisnis, ditemani keripik pastinya...
(mrt)
(Rani Hardjanti)