JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan antara Indonesia-AS sedang mengalami masa terbaik khususnya di tingkatan government to government (G to G). Apalagi setelah payung hukum perdagangan di antara keduanya sudah hampir tersedia lengkap.
"Beberapa bentuk payung hukumnya antara lain TIC/TIFA (Kementerian Perdagangan-USTR), JCM (Kementerian Luar Negeri-Department of State) dan Commercial Dialog (Kemenko Perekonomian-Department of Commerce).Semua ini adalah modal bagi peningkatan bilateral kedua negara apalagi adanya strategic partnership," ungkap Atase Perdagangan RI di Washington DC Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan tertulisnya di Washington, AS dan dikutip di Jakarta, Sabtu (24/12/2011)
Meskipun demikian, menurutnya, momentum ini harus dibarengi dengan hubungan Business to Business (B to B) yang lebih terkoordinasi dan konkrit.
"Atdag juga akan bekerja sama dengan asosiasi lainnya untuk mencapai hal tersebut," lanjut dia.
Pada pertemuan yang juga dihadirioleh US-ASEAN Business Council (US-ABC) untuk menyambut Atase Perdagangan Washington DC ini, Made Marthini juga membicarakan mengenai keketuaan Indonesia dalam APEC 2013.
“Kami meminta masukan dan lesson learn dari pelaksanaan APEC Business Summit di Hawaii karena dalam pandangan kami keberhasilan APEC USA terletak pada keikutsertaan pelaku bisnis dalam pertemuan tersebut,” tambah Made Marthini.
Sebagai informasi, dalam acara ini juga dihadiri Presiden US-ABC Alex Fieldman dan 10 anggota lainnya seperti Yancy Molnar (ACE Insurance), Myrient Jno-Lewis (Underwriters Laboratories), Michael
Bates (Citi), Edyta Malinowski (GlaxoSmithKline), James Keith (MA Global), Bailey Leopard (FedEx), Orit Frenkel (GE), Devry Boughner (Cargill), John Kwant (Ford), Russell King (Freeport McMoran). Acara ini juga dihadiri Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal dan Kepala Fungsi Ekonomi KBRI. (nia)
(Rani Hardjanti)