MUARA SIBERUT - Bukannya membaik, harga kakao makin memburuk memasuki pertengahan Desember 2011 lalu seburuk cuaca yang terjadi di Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Penurunan harga kakao terjadi sangat drastis, mulai dari Rp18 ribu per kilogram (kg) turun menjadi Rp15 ribu, kemudian terakhir pada 23 Desember harga kembali jatuh ke level Rp12 ribu.
Arnil (50), pedagang penampung di Muara Siberut, Senin (2/1/2012) mengatakan jatuhnya harga kakao di Muara Siberut tergantung harga beli pedagang besar yang berada di Padang. "Kalau harga di Padang jatuh, maka di sini juga jatuh, saat ini perdagangan kakao agak lesu," katanya.
Namun bagaimana pun harga kakao jatuh, petani kakao yang telah lama menggantungkan hidupnya di tanaman ini tetap bersemangat mengelola tanamannya. Daniel Sabajou (45), petani kakao di Desa Muntei mengaku walau harga kakao mengalami pasang surut namun dirinya tetap konsisten mengelolah kebun kakao miliknya.
"Hasil kakao telah kami nikmati, rendah atau tinggi kami tetap kelola dengan baik karena tanaman itu telah menjadi tumpuan kehidupan ekonomi keluarga," ujarnya.
Menurutnya, pukulan terhadap petani tidak hanya dari segi harga pasar tetapi juga dari segi penyakit kakao yang banyak menyerang. Banyak batang kakao yang mati diserang penyakit dan kadang penyakit dan hama juga membuat petani sering gagal panen karena buah tak masak atau membusuk.
Sebagian warga juga memilih menyimpan biji kakao yang sudah kering sambil menunggu harganya kembali naik. Warga Mentawai ini sudah menjadi petani kakao sejak 2008 ribuan hektare (ha) kebun kakao dibuka warga, di mana sebelumnya hanya daerah rawah yang di tumbuhi batang sagu diubah menjadi kebun kakao.
(Widi Agustian)