JAKARTA - Bertolak belakang dengan penempatan investasi di pasar saham yang diprediksi akan menghasilkan return tinggi hingga 25 persen, investasi di obligasi khususnya obligasi pemerintah akan memiliki return yang rendah.
Head Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan, beberapa tahun lalu, investasi di obligasi khususnya obligasi pemerintah seperti Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 10 tahun memiliki yield yang tinggi.
"Akan tetapi tahun ini akan semakin rendah, apalagi bagi investor yang baru masuk, kalau yang sudah lama masuk mungkin masih bisa dapat gain," ungkapnya dalam paparannya di Hotel JW Mariot, Jakarta, Rabu (1/2/2012).
Menurut Handy, pada 2011 lalu, investor masih bisa mendapatkan yield SUN hingga 10 persen. Hal ini dikarenakan beberapa tahun terakhir, pemegang SUN mayoritas adalah asing. Namun, tahun ini keadaan akan berubah.
"Kondisi saat ini, nett buyer adalah Bank Indonesia (BI) dan ke depan, kami melihat BI masih akan menjadi big player di pasar sekunder. BI kan memang berniat mengganti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi SUN. BI masih memiliki kemampuan membeli SUN sekira Rp70 triliun-Rp80 triliun," lanjut dia.
Seiring dengan semakin optimismenya pemerintah dengan keadaan ekonomi Indonesia yang terus membaik, ditambah dengan diperolehnya rating investment grade, pihaknya yakin aliran modal akan terus mengalir.
"Dibandingkan negara lain, Indonesia bisa dikatakan negara yang paling banyak dicari. Jadi kalau likuiditas masuk, yield akan makin rendah," tambah dia.
Sedangkan utnuk peluang obligasi korporasi di Indonesia, Handy melihat, korporat-korporat di Indonesia masih punya peluang untuk menerbitkan obligasi antara Rp40 triliun-Rp50 triliun tahun ini. "Itu juga masih tergantung pada perkiraan inflasi dan kebijakan BI rate dari BI," tandasnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)