SURABAYA - Tingginya tingkat konsumsi mi instan di Indonesia menjadi peluang bagi produsen untuk menggarap sektor tersebut.
Kali ini produsen mi instan Healtime membidik kelas menegah ke bawah. Sebab, segmen inilah yang memiliki peluang sangat tinggi.
Menurut Marketing Manager PT Jakarana Tama Mulyadi Djaja, pasar mi premium masih terbuka lebar. Ia optimistis mampu merebut pasar mi instan yang ada saat ini sekira 10 Persen. Jumlah tersebut tentu tidak muluk-muluk sebab, banyak produsen-produsen lain yang bertarung di Pasar Indonesia.
"Kami optimistis mampu memegang pasar 10 persen," katanya, di Surabaya, Senin (6/2/2012).
Ia mengatakan, pasar yang ada saat ini adalah di kalangan kelas B dan C yakni kelas menengah ke bawah. Hal itu berdasarkan tes pasar pada 2011 lalu di beberapa supermarket dan hypermarket. Respons terbesar dari kalangan ekonomi kelas B dan C.
Di Indonesia sendiri, merupakan negara nomor 2 di dunia yang tingkat konsumsinya paling tinggi setelah Korea. Berdasarkan data yang ada, di Indonesia per kepala per tahun mengonsumsi mi instan hingga 75 bungkus. Sedangkan di Korea mencapai 85 bungkus.
Terbukanya pasar tersebut membuat sejumlah produsen harus bertarung. Selain bertarung harga juga bertarung kualitas. Untuk Healtime sendiri, katanya, merupakan produk mie instan yang mengutamakan kesehatan.
Mi ini diproduksi dengan menggunakan bahan baku green barley yang tinggi serat, rendah lemak, tinggi kalsium, dan warna hijau yang ada di mi instan ini sesuai dengan bahan baku yang digunakan.
Adapun yang mendukung pasar adalah perubahan gaya hidup masyarakat yakni lebih mempertimbangkan konsumsi untuk kesehatan dan tidak sekadar instannya saja.
"Meski kategori premium, namun harganya tidak terlalu mahal, yakni Rp3.000 per bungkus," tukasnya sembari berpromosi.