JAKARTA - Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen, pemerintah harus membangun infrastruktur dan memperkuat sektor pangan.
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, dalam dua hingga tiga tahun ke depan pertumbuhan ekonomi akan tetap kuat jika pemerintah lebih mengandalkan pasar dalam negeri dan investasi.
"Ini bukan play defense tapi play offense. Dibandingkan negara lain kita cukup tinggi, tapi dibandingkan kapasitas ideal, kita masih bisa lebih baik," ujarnya yang ditemui dalam Jakarta Food Security Summit 2012, di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2012).
Selain itu, ekspor masih harus dijaga agar tidak turun signifikan. Dia menambahkan, di setiap kuartal awal biasanya momentumnya masih mengikuti sebelumnya. "Tapi kemudian masuk kuartal kedua dan ketiga ada percepatan kita harapkan itu. Apakah percepatan itu terjadi dengan tantangan seperti ini," tegasnya.
Lebih jauh Mahendra mengungkapkan, belajar dari krisis yang menimpa Indonesia di 2008, pertumbuhan ekonomi kian melambat akibat kuartal ketiga dan keempat juga melambat. Karenanya, triwulan pertama harus menjadi momentum balik investasi mulai dari komitmen sampai hasil pertumbuhan ada kesenjangan waktu.
"Kuartal pertama dan kedua masih kuat. Konsumsi dalam negeri membesar karena daya beli. Ekspor seberapa jauh akan terpengaruh oleh kondisi luar. Mestinya satu pengaruh pindah dari komoditas. Secara nasional pindah komoditas yang tidak terpengaruh. Apakah di hortikultural apakah pangan pokok. Kalau di Eropa walaupun terkena tidak akan terkena dampaknya kepada kita," jelas Mahendra.
Oleh karena itu, dia akan memanfaatkan pasar dalam negeri untuk distribusi dan tentu akan memperbanyak langkah-langkah memperbaiki negeri sehingga daya saingnya membaik. "Indonesia-China defisitnya tinggal setengah, langkah-langkah terkait dengan negara manapun bentuk perdagangan yang tidak sesuai dengan peraturan internasional meskinya harus ada," pungkasnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)