JAKARTA - Kondisi ekonomi dunia yang tidak kondusif akibat krisis Eropa membuat Indonesia harus mengintensifkan pasar domestik.
"Gonjang-ganjing ekonomi negara luar mengharuskan kita mengencangkan ekonomi sendiri melalui pasar domestik. Bicara pasar domestik, berarti bicara tentang pasar tradisional," ujar Gita dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (2/3/2012).
Dia pun menekankan pentingnya pasar. Selain sebagai sarana untuk kegiatan jual beli, lanjutnya, fungsi pasar juga sebagai sarana interaksi masyarakat sekitar. "Menurut saya, pasar mendefinisikan konektivitas, yakni titik temu penjual dan pembeli. Bila banyak pembeli yang datang ke pasar, nilai transaksi dan kesejahteraan masyarakat sekitar akan meningkat," ucap dia.
Gita menjelaskan, revitalisasi pasar percontohan merupakan salah satu bentuk pengintensifan pasar. Pasar percontohan tidak hanya diperbaiki dari segi fisik tetapi juga sistem manajemen dan pemberdayaannya.
Sebelumnya, Gita melakukan kunjungan Pasar Agung, Bali merupakan pasar percontohan keempat dari 10 pasar percontohan di 10 kabupaten/kota.
Untuk Pasar Agung, tutur dia, pihaknya telah mengucurkan dana APBN sebesar Rp 7,5 miliar untuk merevitalisasi Pasar Agung. Program revitalisasi Pasar Agung ini pun membuahkan hasil positif. Sejak semua pedagang Pasar Agung direlokasi ke tempat yang baru, omzet penjualan meningkat.
"Dulu, rata-rata sebulan transaksi mencapai Rp1,2 miliar, tapi sekarang sebulannya Rp2,4 miliar. Merupakan suatu kebanggan bagi kami dapat melihat hasil nyata yang positif dari program pasar percontohan ini," ujar Gita.
Mendag berharap, struktur, infrastruktur dan segala fasilitas yang diberikan di pasar percontohan Pasar Agung ini bisa dijaga dengan baik, agar bisa menjadi inspirasi serta parameter bagi pasar-pasar lain. Dia pun berharap nilai transaksi pasar ini bisa terus digenjot.
"Kalau sekarang sebulan nilai transaksinya Rp2,4 miliar, saya bermimpi bisa Rp10 miliar. Kita harus terus bekerja keras," pungkas dia.
(Widi Agustian)