Krisis Global, Petani Rasakan Dampak Paling Besar

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis
Senin 01 Oktober 2012 17:17 WIB
Ilustrasi
Share :

MEDAN – Saat banyak pihak mengkhawatirkan dampak krisis global pada perekonomian Indonesia, banyak yang melupakan jika masyarakat yang bergerak di sektor riil lah yang paling merasakan dampak krisis. Dampak tersebut dirasakan paling buruk oleh petani.
 
Dari data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, penghasilan real petani menurun cukup sigfnikan. Bahkan petani sektor perkebunan yang menjadi sektor pendorong utama perekonomian di Sumut, mengalami penurunan nilai tukar yang tertinggi dibandingkan petani di sektor lainnya.

"Di September 2012, NTP (nilai tukar petani) Provinsi Sumatera Utara tercatat sebesar 101,05 atau mengalami penurunan 0,60 persen bila dibandingkan dengan NTP Agustus 2012 sebesar 101,66. Sedangkan NTP per subsektor masing-masing tercatat sebesar 99,81 untuk subsektor padi dan palawija (NTPP) 108,37 untuk subsektor hortikultura (NTPH) 98,86 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) 104,85 untuk subsektor peternakan (NTPT) dan 98,64 untuk subsektor perikanan (NTN)," ungkap Kepala BPS Sumut Suharno, kepada Okezone, Senin (1/10/2012).

Suharno menyebutkan, meski sektor perkebunan rakyat seperti sawit dan karet merupakan komoditas utama. Namun petani di subsektor ini pula yang mengalami kemiskinan tertinggi akibat penurunan nilai tukar.

"Pada September 2012, NTPR mengalami penurunan sebesar 0,86 persen. Hal ini karena perubahan Indeks Penerimaan (It) 0,63 persen lebih rendah dibandingkan perubahan pada Indeks Bayar (Ib) sebesar 0,23 persen. Penurunan yang terjadi pada It karena penurunan indeks subkelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,63 persen yaitu. Di sisi lain, perubahan kenaikan pada Ib karena perubahan IKRT naik sebesar 0,31 persen sedangkan indeks BPPBM turun  0,09 persen," jelasnya.

Semakin mengkhawatirkannya kesejahteraan petani di Sumut juga didorong oleh peningkatan tingkat pergerakan harga di wilayah pedesaan di Sumut yang jauh lebih besar dibandingkan di wilayah perkotaan. Pada September 2012 ini, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang mencerminkan tingkat pergerakan harga di Sumut, meningkat (inflasi) sebesar 0,33 persen. Padahal di wilayah perkotaan secara agregat justru mengalami deflasi sebesar 0,03 persen.

Peningkatan IKRT ini didorong oleh kenaikan indeks kelompok bahan makanan sebesar 0,12 persen, indeks kelompok makanan jadi, minuman & rokok sebesar 0,65 persen, kelompok perumahan sebesar 0,30 persen, kelompok sandang sebesar 0,43 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,70 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,48 persen dan kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,37 persen. (gna)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya