JAKARTA - Perbankan Indonesia dinilai harus hati-hati untuk menyalurkan kredit di sektor manufaktur. Hal ini lantaran sektor manufaktur masih rentan terhadap ancaman krisis global.
"Kita sangat selektif dalam memberikan pinjaman, kita akan klasifikasi, kita akan lihat apakah industrinya mudah terkena eksternal shock, atau sebaliknya," kata Head of Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti, pada acara Seminar World Bank di Gedung Graha Niaga Jakarta, Rabu (10/10/2012).
Dia mengatakan, jumlah nonperforming loan (NPL) di sektor manufaktur cukup tinggi, mencapai 2,6 persen pada Juli 2012. Untuk itu, diperlukan management dan sustainable yang baik sebelum memberikan kredit.
"Dalam memberikan kredit kita melihat suplai dan demandnya. Bagaimana ketergantungannya terhadap impor? Bagaimana profit marginnya? Ini historynya yang kita lihat," ujar destry.
Sejauh ini, lanjut Destry, beberapa industri manufaktur yang cukup sustainebel adalah garmen dan tektil. "Industri Garmen so far oke, karena dia punya karakteristik yang unik, seperti kerajinan tangan dia juga punya prospek yang bagus," jelas dia.
Sedangkan untuk tekstil, dinilai cukup memiliki bidang tingkat kerentanan yang tinggi Ini dapat dilihat dari rata-rata pangsa pasar yang banyak di luar negeri. Sehingga, jika terjadi krisis global sektor ini dinilai mudah terkena dampaknya. "Kalau di lihat dari kredit by sektor di manufaktur terbesar sharenya sekitar hanya 12,9 persen," jelas dia.
Dalam pemaparannya, pertumbuhan kredit share pada sektor manufaktur industri dari 2002 terus menurun dengan share 33,2 persen, pada 2005 sharenya menurun ke24,8 persen, di 2010 share menurun lagi 15,6 persen, dan pada Agustus 2012 share sudah turun ke 16,3 persen.
Walaupun menurun, namun portfolio manufaktur persaingannya masih tinggi. Destry menilai, dalam porfolio kita juga melihat bagaimana persaingan di manufaktur, dan ketergantungannya terhadap bahan baku impor.
"Kita belum tahu bagaimana kondisi global, jadi dalam memberikan kredit pun kita harus konservatif," tukas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)