JAKARTA - Kementerian Keuangan menyebut pembangunan kilang bersama Saudi Aramco tidak akan untung. Pasalnya, internal rate of return (IRR) atau imbal hasil perusahaan migas asal Arab Saudi itu rendah.
"Memang rendah (IRR Saudi Aramco). Namun, kita masih menunggu Feasibility Study (studi Kelayakan/FS) sebelum menentukan insetif apa yang cocok atau tawaran yang cocok," ungkap Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo ditemui di Kantornya, Jakarta, Kamis (3/1/2013)
Terkait rencana pembangunan kilang bersama antara Pertamina dengan dua partnernya Saudi Aramco dan Kuwait Petroleum, Agus menyebut, kedua perusahaan tersebut belum mengajukan FS yang lengkap. Meski demikian, keduanya telah mengajukan berbagai insentif baik fiskal seperti keringanan pajak maupun non fiskal seperti pembebasan lahan.
"(Insentif) harus didasarkan pada satu FS dan itu nanti terlihat berapa return yang diterima investor dalam internal rate return ataupun bentuk yang lainnya," tambahnya.
Dari hasil FS yang diajukan mereka, ternyata pemerintah belum sepakat dengan hasil tersebut sehingga perlu dikembalikan.
"Dari sisi pemerintah mungkin bisa melihat asumsi-asumsi ataupun model yang melihat ini sebetulnya terlalu rendah harusnya bisa lebih tinggi," pungkasnya.