BANDA ACEH - Produksi Industri Manufaktur Besar Sedang (IBS) di Provinsi Aceh meningkat signifikan pada 2012. Dibanding 2011, pertumbuhan industri ini tahun lalu mencapai 7,60 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Syeh Suhaimi menyebutkan, selama 2012 produksi makanan dan minuman memperlihatkan presentase peningkatan tertinggi yaitu 9,27 persen.
"Disusul kelompok industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang meningkat 6,94 persen," katanya, di Banda Aceh, Jumat (1/2/2013).
Produksi industri makanan sebagian besar disumbang oleh hasil produksi Crude Palm Oil yang ikut naik. Pabrik pengolahan CPO di antaranya terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Barat dan Nagan Raya.
Sementara pada kelompok industri bahan kimia mayoritas disumbangkan oleh peningkatan produksi pupuk urea. "Permintaan pupuk urea ini tinggi selama triwulan empat," ujar Suhaimi.
Sementara itu jika dibandingkan dengan triwulan III-2012, produksi IBS tumbuh melambat selama triwulan IV atau hanya 1,44 persen.
Hal ini dipengaruhi oleh produksi industri makanan yang hanya sebesar 0,55 persen dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 1,58 persen. Sedangkan pada triwulan III, industri makanan tumbuh 2,43 persen dan industri bahan kimia 0,70 persen.
Sebagaimana IBS, posisi Industri Manufaktur Mikro dan Kecil (IMK) Aceh juga mengalami pertumbuhan positif pada 2012. Hasil survey terhadap 560 usaha yang tersebar disejumlah kabupaten/kota, kata Suhaimi, produksi IMK Aceh mencapai 2,20 persen dibanding 2011.
"Jika dibanding dengan pertumbuhan produksi nasional persentasenya lebih besar yaitu 4,06 persen," sebutnya.