JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut kemiskinan di Indonesia dan berbagai negara belum berkurang. Kesenjangan yang kaya dan miskin, tidak hanya menjadi masalah di negara-negara miskin tetapi juga di negara-negara berkembang dan maju.
"Meskipun menuai sukses di berbagai aspek, Millenium Development Goals (MDGs) yang akan segera berakhir pada 2015 masih belum berhasil mengatasi kemiskinan," kata SBY, dikutip dari situs Sekretaris Kabinet, Rabu (20/2/2013).
Menurut SBY, MDGs tidak mampu menangani sejumlah isu seperti penyediaan lapangan kerja dan kesenjangan. MDGs juga tidak mampu menjawab akar persoalan pembangunan berkelanjutan dan mengurai penyebab kemiskinan karena MDGs lebih menekankan pencapaian target dibanding prosesnya.
Namun, upaya merumuskan agenda pembangunan pasca-2015, menurut Presiden SBY, ada tiga yang perlu dijadikan pertimbangan Pertama, pengalaman, lanskap pembangunan dan kerangka kerja yang mampu menjawab tantangan dan peluangan saat ini dan di masa depan.
"Masa depan dunia memiliki kompleksitas yang semakin rumit. Pada 2050 mendatang, dunia akan dihuni oleh sembilan miliar penduduk, makin besarnya dampak perubahan iklim, kerentanan terhadap goncangan ekonomi maupun natural, dan menipisnya sumber daya alam, sehingga makin melebarkan kesenjangan," papar SBY.
Kompleksitas persoalan dunia di masa depan itu, lanjut SBY, menjadi tantangan yang harus ditanggapi secara serius melalui agenda pembangunan global pasca 2015. Terkait hal ini, Presiden SBY mengingatkan perlunya perubahan cara pandang dan cara pikir baru atau paradigma dari semua pihak atau pemangku kepentingan.
"Pembangunan bukanlah desain 'dari atas' yang diimplementasikan 'di bawah' (top down), melainkan haruslah sebuah proses partisipatif yang bersifat bottom-up," tutur Kepala Negara.
Dengan paradigma baru ini, menurut Presidden SBY, kemiskinan tidak lagi digunakan dengan praktik lama, seperti pinjaman dan dana bantuan pembangunan melainkan dengan melibatkan orang miskin dan membangun kapasitasnya agar makin berdaya dan bisa meninggalkan kemiskinan.
"Dengan kata lain, dari pendekatan poverty alleviation menuju leaving poverty behind," tukas SBY.