JAKARTA - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan pendapatan usaha sebesar USD3,72 miliar atau turun 6,6 persen dibanding 2011 sebesar USD3,99 Miliar.
Sementara laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD385,3 juta atau turun 30 persen dari tahun sebelumnya USD550,35 juta di 2011.
"Penurunan terjadi disebabkan turunnya volume penjualan dan harga jual rata-rata yang lebih rendah dari tahun sebelumnya. Pasar batubara juga belum kondusif," ungkap Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir usai Rapat Umum Pemegang Saham kepada wartawan di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (19/4/2013).
Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ini, sudah memperhitungkan kontribusi kepada pemerintah Indonesia dalam bentuk pajak penghasilan dan royalti yang masing-masing sebesar USD330,42 juta dan USD383,70 juta.
Sementara itu perseroan mencatatkan EBITDA sebesar USD 1.088 juta sesuai dengan pedoman tahun 2012 sebesar USD 1.000 juta sampai dengan USD1.300 juta.
"Dengan berlanjutnya pertumbuhan Indonesia dan seluruh Asean, kami akan siap menjadi penyedia energi terkemuka dan memberikan kontribusi bagi ekonomi nasional," jelasnya.
Lebih lanjut, Garibaldi menyebut, total aset perseroan tercatat sebesar USD6,69 miliar atau naik 18,3 persen dibandingkan 2011. Sedangkan total kewajiban naik sebesar 15 persen menjadi USD3,70 miliar.
Likuiditas tetap kuat dengan akses kas hampir mencapai USD920 juta (termasuk USD420 juta comiited funding yang belum digunakan dari fasilitas pinjaman bank jangka panjang).
"Total ekuitas perseoran tumbuh sebesar 23 persen menjadi USD2,99 miliar yang disebabkan adanya peningkatan laba ditahan dari laba bersih tahun buku 2012," jelasnya.