JAKARTA - PT Saratoga Investama Sedaya (Saratoga) optimistis investasinya di tiga sektor utama yaitu produk dan jasa layanan konsumer, infrastruktur dan sumber daya alam akan terus bertumbuh secara positif dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Hal itu didukung oleh kuatnya fundamental ekonomi dan tingginya konsumsi domestik Indonesia. Tahun ini, konsumsi domestik diperkirakan akan berkontribusi hingga 55 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional (Kajian UBS Investment Bank, April 2013).
Komisaris Utama Saratoga Edwin Soerjadjaya mengatakan PT Mitra Pinasthika Mustika (MPM) mencatat dalam dua tahun terakhir asetnya telah meningkat dari Rp2,59 triliun di tahun 2011 menjadi Rp9,07 triliun.
Untuk semakin memperkuat bisnisnya, MPM sedang dalam proses melakukan penjualan saham ke publik (IPO). Melalui aksi korporasi ini MPM menargetkan dapat meraih dana diatas Rp 1,5 triliun.
"Ruang bagi pertumbuhan bisnis aset-aset investasi yang kami kelola masih sangat besar. Untuk itu kami secara aktif terus melakukan investasi baru agar Saratoga tumbuh secara maksimal," ujar Edwin melalui laporan tertulisnya, Rabu (22/5/2013).
Melalui strategi pengelolaan portofolio yang aktif, beberapa aset investasi Saratoga kini telah menjadi pemain utama di sektor bisnisnya masing-masing. Misalnya PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang bergerak di sektor pertambangan dan energi serta PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) yang berbisnis infrastruktur telekomunikasi.
Presiden Direktur Saratoga Sandiaga S Uno mengungkapkan, sejak dikelola Saratoga produksi batubara Adaro telah meningkat dari sekitar 14 juta ton per tahun menjadi di atas 50 juta ton di tahun 2013. Adaro juga menjadi perusahaan pertambangan dan energi terintegrasi dengan biaya produksi paling rendah. Di kuartal I-2013, pendapatan Adaro mencapai USD740,6 juta dengan laba bersih sebesar USD41,6 juta.
Ekspansi Tower Bersama juga sangat agresif. Jumlah pelanggan perusahaan meningkat signifikan sejak tahun 2010 menjadi 14.319 penyewaan per 31 Maret 2013. Tower Bersama berhasil mencatat pendapatan Rp618 miliar dengan EBITDA Rp507 miliar untuk kuartal pertama 2013. Pendapatan tersebut meningkat 100 persen dan EBITDA meningkat 107 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012.
"Saratoga bukan konglomerasi atau holding company yang biasanya pasif. Kami merupakan perusahaan investasi yang selalu aktif mencari dan memaksimalkan setiap opportunity bisnis untuk meningkat value anak perusahaan kami. Perusahaan itu harus dinamis, bisa tumbuh secara organik maupun anorganik," jelas Sandiaga.
Sebagai perusahaan investasi aktif, Saratoga memiliki beberapa kiat dalam mengelola dan mengembangkan perusahaan investasinya. Pertama, adalah perbaikan kinerja dan penerapan Good Corporate Governance (GCG).
Kedua, adalah melakukan peningkatan dalam segi operasional untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan. Hal ini tercermin dari pendapatan perusahaan-perusahaan investasi utama kami, seperti Adaro, Tower Bersama dan MPM yang rata-rata meningkat sejak bergabung dengan Saratoga.
Ketiga adalah mendorong pertumbuhan secara anorganik "Perusahaan harus tumbuh secara dinamis dan mengambil peluang usaha agar terus bertumbuh. Kami terus mendorong manajemen perusahaan untuk mengkaji pertumbuhan secara organik dan anorganik," tuturnya.
Keempat adalah unlocking value. Sandiaga mengatakan kami mendorong perusahaan-perusahaan investasi untuk melantai di bursa. Bukan untuk menarik uang, tapi untuk menambah modal agar perusahaan dapat terus berkembang secara agresif dan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas untuk dapat bersaing di taraf internasional.
Menurut Sandiaga, Saratoga kedepan akan tetap fokus pada tiga sektor bisnis yang kini dikelola. Ketiga sektor tersebut dinilai akan menjadi penggerak utama roda perekonomian Indonesia ke depan.
"Kami memiliki komitmen jangka panjang untuk memaksimalkan peluang bisnis yang dimiliki oleh setiap anak perusahaan. Targetnya, Saratoga akan menjadi perusahaan investasi nasional terbesar yang akan menjadi pilihan pertama investor domestik dan internasional untuk berinvestasi di Indonesia," tukas Sandiaga. (wan)
(Widi Agustian)