JAKARTA - Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuagan (Kemenkeu) mencatat utang Indonesia mencapai Rp2.023,72 triliun. Kenaikan utang ini, lantaran nilai tukar rupiah yang melemah menjadi Rp9.722 per USD dari Rp9.719 per USD.
Chief economist BNI Ryan Kiryanto yakin, Indonesia mampu membayar utang yang saat sudah berada di atas Rp2 ribu triliun. Pasalnya, saat ini kondisi fiskal Indonesia masih sangat sehat.
"Mampu, berdasarkan Kemampuan objektif kondisi fiskal dari Indonesia," ujar Chief economist BNI Ryan Kiryanto, saat ditemui wartawan di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/5/2013).
Ryan menjelaskan, kemampuan tersebut didasari opsi-opsi yang dapat dilakukan pemerintah. Seperti opsi restrukturing, rescheduling, atau reconditioning. "Untuk rescheduling bisa melakukan jangka waktu diperpanjang," katanya.
Menurut dia, jika melihat restrukturing maka tingkat suku bunga bunga harus diturunkan. Kemudian untuk reconditioning, harus dilakukan negosiasi term-term-nya dari dua bulan sekali, menjadi tiga bulan sekali.
"Tapi yang penting bukan utangnya tapi bagaimana utang itu dimanage untuk pembangunan. Itu yang penting," tukas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)