LONDON - Bumi Plc mencatat kenaikan rugi bersih sebesar USD2,235 miliar, atau 730,39 persen menjadi USD2,541 miliar sepanjang 2012, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang rugi USD306 juta. Laporan keuangan Bumi Plc sempat mundur karena adanya investigasi.
Padahal, induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) ini mencatat pendapatan perseroan pada 2012 dengan mengalami peningkatan USD124 juta atau naik 8,81 persen menjadi USD1,531 miliar dari USD1,407 miliar.
Melansir keterangan yang diterbitkan oleh perseroan, Jumat (31/5/2013), EBITDA perseroan turun ke USD365 juta dari sebelumnya USD511 juta. Perseroan juga mencatat kenaikan pada rugi per saham dari USD1,76 menjadi USD9,64 per saham.
"Biaya meningkat, terutama karena harga bahan bakar yang lebih tinggi, dan sedikit peningkatan tarif karena jarak angkut lebih jauh dari tambang tertentu pada pabrik pengolahan batu bara," kata Bumi dalam keterangan tertulisnya yang dipublikasikan di Jakarta, Jumat (31/5/2013).
Selain itu, Bumi juga tengah melakukan peninjauan ekstensif dari posisi keuangan PT Berau yang mengidentifikasi pengeluaran yang tidak ada tujuan bisnis yang jelas. Pengeluaran ini mencapai USD152 juta pada 2012, naik dari 2011 sebesar USD49 juta, dan telah diklasifikasikan sebagai biaya luar biasa lainnya.
Adapun posisi kas pada 31 Desember 2012 adalah sebesar USD457 juta, dengan kas yang dibatasi penggunaannya sebesar USD124 juta, USD9 juta dari dividen yang diterima dari PT Bumi, dan USD22 juta dari PT Berau pada 2011. Sekitar 84 persen dari penjualan batu bara ditujukan untuk ekspor, dengan sekitar 16 persen untuk penjualan domestik Indonesia.
Di sisi lain, Bumi Plc mencaat volume produksi naik 8 persen selama 21 bulan ini, sementara biaya produksi penjualan naik 5 persen lebih tinggi ke USD37,8 per ton, karena peningkatan jarak angkut, biaya bahan bakar, dan stripping ratio. Sedangkan realisasi harga batu bara sebesar USD70,9 per ton, turun 13 persen dibanding 2011.
(Martin Bagya Kertiyasa)