JAKARTA - Pidato ketua The Federal Reserve Ben Bernanke tampaknya memberikan sentimen negatif pada perdagangan valuta asing. Imbasnya, investor makin tergoda untuk memindahkan dananya pada dolar Amerika Serikat (AS), sebagai aset safe haven.
Akibat menguatnya dolar AS pada perdagangan hari ini, rupiah kembali terpuruk. Meski demikian, berkat pengawalan Bank Indonesia (BI) rupiah tidak menembus level Rp10 ribu per USD.
Kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI mencatat rupiah melemah ke Rp9.927 per USD dengan kisaran perdagangan Rp9.877-Rp9.977 per USD. Sementara Bloomberg mencatat rupiah ada di Rp9.984 per USD, dengan kisaran perdagangan Rp9.920-Rp10.130 per USD.
Head of Research & Analysis BNI, Nurul Eti Nurbaeti, mengungkapkan tekanan pada rupiah diakibatkan hasil FOMC meeting semalam di mana Bank Sentral AS tetap mempertahankan suku bunga rendah di level 0,25 persen dan masih meneruskan program stimulusnya.
Hal ini berdampak pada turunnya appetite pelaku pasar dan diperkirakan mendorong tereskalasinya dolar AS pagi ini. "Tapi BI diperkirakan tetap mengawal pergerakan nilai tukar rupiah hari ini," katanya dalam risetnya di Jakarta, Kamis (20/6/2013).
Senada, analis Samuel Sekuritas mengatakan, sentimen negatif pasar AS dan Eropa telah memberikan tekanan pada rupiah. "Rupiah mengalami pelemahan lanjutan jika tidak dijaga ekstra keras oleh BI," tutupnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)