<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sarung Sablon Ancaman Sarung Tenun </title><description>Ketekunan mengais rezeki perajin sarung tenun di Mojoagung ini setekun mereka dalam menenun benang. Meski tak kunjung meningkat, usaha ini tetap dipertahankan.  </description><link>https://economy.okezone.com/read/2008/02/02/19/80324/sarung-sablon-ancaman-sarung-tenun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2008/02/02/19/80324/sarung-sablon-ancaman-sarung-tenun"/><item><title>Sarung Sablon Ancaman Sarung Tenun </title><link>https://economy.okezone.com/read/2008/02/02/19/80324/sarung-sablon-ancaman-sarung-tenun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2008/02/02/19/80324/sarung-sablon-ancaman-sarung-tenun</guid><pubDate>Sabtu 02 Februari 2008 12:22 WIB</pubDate><dc:creator>Tritus Julan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2008/02/02/19/80324/k3pZ557gTb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perajin menenun kain (Foto: Tritus J)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2008/02/02/19/80324/k3pZ557gTb.jpg</image><title>Perajin menenun kain (Foto: Tritus J)</title></images><description>JOMBANG - Ketekunan mengais rezeki perajin sarung tenun di Mojoagung ini setekun mereka dalam menenun benang. Meski tak kunjung meningkat, usaha ini tetap dipertahankan.Â Tiga penenun tampak semangat mengaitkan benang demi benang di tempat kerja berukuran sempit milik Muhammad Afif itu. Di tempat itulah, tiga pekerja rutin dan 50 pekerja borongan menanggalkan nasib mereka dari pekerjaan yang membutuhkan ketekunan tersendiri itu.Sulitnya mencari pekerjaan lain, menjadi alasan utama bagi para pekerja ini untuk tetap bertahan dengan pekerjaan warisan nenek moyang. Padahal dari pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ini, mereka juga tak kunjung mendapatkan kesejahteraan.Bisnis sarung tenun memang sejak lama mengalami kelesuan. Ini menyusul maraknya jenis sarung serupa yang menggunakan sablon untuk mencetak motifnya itu. Keberadaan sarung sablon inilah yang menjadi ancaman bagi para pengusaha sarung tenun, hingga bisnis mereka terancam gulung tikar.Tak hanya karyawan saja yang tak bisa menikmati hasil dari pekerjaan rumit itu. Para pemilik usaha ini juga mengaku tak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, meski telah puluhan tahun menekuni usaha ini. ''Sejak 1970 lalu, usaha turun temurun ini kondisinya tetap. Tak ada perubahan yang mencolok. Malah kami sempat tutup selama dua bulan,'' kata Muhammad Afif, salah satu pengusaha sarung tenun di Dusun Kebondalem Desa Mojoagung Kec Mojoagung, Sabtu (2/2/2008).Dia membenarkan jika lesunya bisnis tersebut lantaran munculnya sarung jenis sablon yang membanjiri pasaran. Apalagi sarung jenis itu, harganya relatif terjangkau oleh semua kalangan. Selain itu kata Afif, harga sejumlah bahan dasar seperti benang dan cat, terus meroket. ''Karena kami menggunakan benang dan cat dari luar negeri, sehingga harganya sangat jauh dibanding bahan lokal. Sementara jika dipaksakan mengunakan bahan lokal, produk kami akan berkualitas rendah,'' kata Afif.Kondisi ini juga membuat Afif kebingungan. Dia harus rela memilih antara laba yang minim dan barang yang bermutu rendah. Sementara jika dirirnya bertahan dengan bahan baku dari luar negeri, harga pasar justru tak mampu mengimbangi harga barangnya tersebut. ''Untung hanya Rp500 ribu per kodi. Sedangkan dalam sebulan, tiga karyawan tetap dan 50 karyawan borongan, hanya mampu membuat lima hingga enam kodi. Hampir-hampir kami tak punya untung,'' rincinya.Dia sendiri juga mengaku tak habis pikir dengan rendahnya harga pasaran atas produk yang dibuatnya. Padahal, selain harga bahan dasar yang mahal, upah produksi atas usaha ini juga tergolong tinggi. Hal ini menurutnya, lantaran untuk membuat sarung tenun, butuh ketelitian dan kehati-hatian yang memakan banyak waktu. ''Rata-rata per buah kami jual Rp80ribu. Padahal, di toko harga itu berubah menjadi Rp150 ribu. Kita yang produksi, tapi kita juga yang terpuruk,'' katanya sembari menyebut jika untuk memasarkan produknya itu, hanya mengandalkan pesanan dari toko-toko.Mengapa Alif tetap mepertahankan bisnis ini? Dirinya mengaku jika tak bisa melepas begitu saja puluhan karyawannya yang telah mengabdi puluhan tahun.Di sisi lan, Alif sebenarnya juga prihatin dengan kesejahteraan karyawannya yang tak kunjung berubah. ''Mau bagaimana lagi, untung kita juga tipis. Lagian, mereka tak bisa bekerja lain selain jadi penenun,'' pungkasnya.</description><content:encoded>JOMBANG - Ketekunan mengais rezeki perajin sarung tenun di Mojoagung ini setekun mereka dalam menenun benang. Meski tak kunjung meningkat, usaha ini tetap dipertahankan.Â Tiga penenun tampak semangat mengaitkan benang demi benang di tempat kerja berukuran sempit milik Muhammad Afif itu. Di tempat itulah, tiga pekerja rutin dan 50 pekerja borongan menanggalkan nasib mereka dari pekerjaan yang membutuhkan ketekunan tersendiri itu.Sulitnya mencari pekerjaan lain, menjadi alasan utama bagi para pekerja ini untuk tetap bertahan dengan pekerjaan warisan nenek moyang. Padahal dari pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ini, mereka juga tak kunjung mendapatkan kesejahteraan.Bisnis sarung tenun memang sejak lama mengalami kelesuan. Ini menyusul maraknya jenis sarung serupa yang menggunakan sablon untuk mencetak motifnya itu. Keberadaan sarung sablon inilah yang menjadi ancaman bagi para pengusaha sarung tenun, hingga bisnis mereka terancam gulung tikar.Tak hanya karyawan saja yang tak bisa menikmati hasil dari pekerjaan rumit itu. Para pemilik usaha ini juga mengaku tak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, meski telah puluhan tahun menekuni usaha ini. ''Sejak 1970 lalu, usaha turun temurun ini kondisinya tetap. Tak ada perubahan yang mencolok. Malah kami sempat tutup selama dua bulan,'' kata Muhammad Afif, salah satu pengusaha sarung tenun di Dusun Kebondalem Desa Mojoagung Kec Mojoagung, Sabtu (2/2/2008).Dia membenarkan jika lesunya bisnis tersebut lantaran munculnya sarung jenis sablon yang membanjiri pasaran. Apalagi sarung jenis itu, harganya relatif terjangkau oleh semua kalangan. Selain itu kata Afif, harga sejumlah bahan dasar seperti benang dan cat, terus meroket. ''Karena kami menggunakan benang dan cat dari luar negeri, sehingga harganya sangat jauh dibanding bahan lokal. Sementara jika dipaksakan mengunakan bahan lokal, produk kami akan berkualitas rendah,'' kata Afif.Kondisi ini juga membuat Afif kebingungan. Dia harus rela memilih antara laba yang minim dan barang yang bermutu rendah. Sementara jika dirirnya bertahan dengan bahan baku dari luar negeri, harga pasar justru tak mampu mengimbangi harga barangnya tersebut. ''Untung hanya Rp500 ribu per kodi. Sedangkan dalam sebulan, tiga karyawan tetap dan 50 karyawan borongan, hanya mampu membuat lima hingga enam kodi. Hampir-hampir kami tak punya untung,'' rincinya.Dia sendiri juga mengaku tak habis pikir dengan rendahnya harga pasaran atas produk yang dibuatnya. Padahal, selain harga bahan dasar yang mahal, upah produksi atas usaha ini juga tergolong tinggi. Hal ini menurutnya, lantaran untuk membuat sarung tenun, butuh ketelitian dan kehati-hatian yang memakan banyak waktu. ''Rata-rata per buah kami jual Rp80ribu. Padahal, di toko harga itu berubah menjadi Rp150 ribu. Kita yang produksi, tapi kita juga yang terpuruk,'' katanya sembari menyebut jika untuk memasarkan produknya itu, hanya mengandalkan pesanan dari toko-toko.Mengapa Alif tetap mepertahankan bisnis ini? Dirinya mengaku jika tak bisa melepas begitu saja puluhan karyawannya yang telah mengabdi puluhan tahun.Di sisi lan, Alif sebenarnya juga prihatin dengan kesejahteraan karyawannya yang tak kunjung berubah. ''Mau bagaimana lagi, untung kita juga tipis. Lagian, mereka tak bisa bekerja lain selain jadi penenun,'' pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
