<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Saham Bayan Digoreng Hingga Naik 542%?</title><description>Satu kabar panas menyengat perusahaan batu bara terbesar kedelapan, PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Terjadi lonjakan harga yang yang luar biasa mencapai 542,85 persen, akibat goreng-menggoreng saham yang kabarnya dilakukan oleh salah satu oknum otoritas pasar modal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2009/06/29/278/233721/saham-bayan-digoreng-hingga-naik-542</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2009/06/29/278/233721/saham-bayan-digoreng-hingga-naik-542"/><item><title>Saham Bayan Digoreng Hingga Naik 542%?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2009/06/29/278/233721/saham-bayan-digoreng-hingga-naik-542</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2009/06/29/278/233721/saham-bayan-digoreng-hingga-naik-542</guid><pubDate>Senin 29 Juni 2009 07:56 WIB</pubDate><dc:creator>Candra Setya Santoso</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/06/29/278/233721/lcjq3dnfXp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Corbis</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/06/29/278/233721/lcjq3dnfXp.jpg</image><title>Foto: Corbis</title></images><description>JAKARTA - Satu kabar panas menyengat perusahaan batu bara terbesar kedelapan, PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Terjadi lonjakan harga yang yang luar biasa mencapai 542,85 persen, akibat goreng-menggoreng saham yang kabarnya dilakukan oleh salah satu oknum otoritas pasar modal.&amp;quot;Kita tidak mengetahui adanya goreng-gorengan saham di pasar modal dan saham Bayan. Selama ini, kita melaporkan kinerja dan merasa perseroan baik-baik saja. Jika ada pihak tertentu menggoreng saham kami, itu bukan wewenang kami. Tetapi, sejauh ini kami perseroan tidak tahu tentang itu,&amp;quot; ungkap Direktur and Corporate Secretary BYAN Jenny Quantero seraya kaget mengetahui lonjakan tersebut, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Minggu (28/6/2009) sore. Aksi korporasi yang dilakukan perseroaan, jelas Jenny, perseroan memperoleh penilaian wajar atas transaksi afiliasi anak usahanya, PT Muji Lines, dalam rencana perseroan memberikan jaminan tambahan USD300 juta yang berasal dari tiga bank asing. Penilaian tersebut dilakukan oleh PT Ujatek Baru sebagai tim penilai transaksi perseroan. &amp;quot;Belum ada aksi korporasi lain, setelah itu,&amp;quot; ujarnya.Sebagai informasi, saham emiten berkode bursa BYAN harga penawaran awal yang dipatok Rp5.800 per lembarnya, tiba-tiba pada awal bulan Desember 2008 anjlok ke posisi Rp840 per lembarnya. Terpantau, pada penutupan perdagangan IHSG akhir pekan (26/6/2009), harga saham dengan kode emiten BYAN cuma melemah Rp50 atau turun 0,92 persen ke posisi Rp5.400 per lembar sahamnya.&amp;quot;Jika dibandingkan dengan penutupan akhir tahun 2008 lalu, setidaknya saham Bayan melonjak lebih dari 500 persen pada akhir tahun lalu, dibandingkan sekarang. Dimungkinkan, ada goreng-gorengan saham di sini,&amp;quot; ujar riset analis PT Reliance Securities Tbk (RELI) Gina Novrina Nasution, saat berbincang dengan okezone, di Jakarta, Senin (29/6/2009).Gina berpendapat, persoalan lain yang membayangi BYAN adalah pelemahan harga komoditas seiring merosotnya harga minyak mentah di kisaran USD70 per barel. Hal ini telah memicu investor beberapa hari terakhir melakukan switching ke sektor lain yang lebih menjanjikan keuntungan.Batu bara sebagai substitusi energi terdekat paling terpengaruh penurunan harga minyak. Koreksi harga minyak pada Juli 2008 lalu, dituding sebagai penyebab mengerek turunnya saham emiten batu bara. Sebelumnya, penerbitan pernyataan efektif IPO Bayan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga harus diundur dari jadwal menyusul munculnya kasus sengketa lahan tambang.Pemanfaatan lahan tambang anak usaha BYAN, yaitu PT Perkasa Inaka Kerta (PIK), dianggap berada di atas lahan hutan milik PT Porodisa. Tambang batubara PIK juga disebut-sebut belum memiliki izin prinsip pencadangan lokasi tambang dan izin pinjam pakai kawasan dari Departemen Kehutanan.Pada 18 Juli 2008, Bayan Group menerima surat dari Pelaksana Tugas Bupati Kutai Timur yang menyatakan mereka melanggar UU Kehutanan. Tapi, Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany akhirnya memberi pernyataan efektif kepada BYAN setelah menelaah kasusnya.BYAN adalah emiten ke-17 yang dicatatkan di BEI tahun 2008, yang melepas 958.333.500 saham dengan nilai nominal Rp100. Sedangkan seluruh saham mencapai 2,375 miliar saham. Pemegang saham perseroan setelah IPO adalah Dato' Low Tuck Kwong 56,3 persen, Jenny Quantero 11,3 pesren, Engki Wibowo 7,5 persen, dan publik 25 persen.  </description><content:encoded>JAKARTA - Satu kabar panas menyengat perusahaan batu bara terbesar kedelapan, PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Terjadi lonjakan harga yang yang luar biasa mencapai 542,85 persen, akibat goreng-menggoreng saham yang kabarnya dilakukan oleh salah satu oknum otoritas pasar modal.&amp;quot;Kita tidak mengetahui adanya goreng-gorengan saham di pasar modal dan saham Bayan. Selama ini, kita melaporkan kinerja dan merasa perseroan baik-baik saja. Jika ada pihak tertentu menggoreng saham kami, itu bukan wewenang kami. Tetapi, sejauh ini kami perseroan tidak tahu tentang itu,&amp;quot; ungkap Direktur and Corporate Secretary BYAN Jenny Quantero seraya kaget mengetahui lonjakan tersebut, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Minggu (28/6/2009) sore. Aksi korporasi yang dilakukan perseroaan, jelas Jenny, perseroan memperoleh penilaian wajar atas transaksi afiliasi anak usahanya, PT Muji Lines, dalam rencana perseroan memberikan jaminan tambahan USD300 juta yang berasal dari tiga bank asing. Penilaian tersebut dilakukan oleh PT Ujatek Baru sebagai tim penilai transaksi perseroan. &amp;quot;Belum ada aksi korporasi lain, setelah itu,&amp;quot; ujarnya.Sebagai informasi, saham emiten berkode bursa BYAN harga penawaran awal yang dipatok Rp5.800 per lembarnya, tiba-tiba pada awal bulan Desember 2008 anjlok ke posisi Rp840 per lembarnya. Terpantau, pada penutupan perdagangan IHSG akhir pekan (26/6/2009), harga saham dengan kode emiten BYAN cuma melemah Rp50 atau turun 0,92 persen ke posisi Rp5.400 per lembar sahamnya.&amp;quot;Jika dibandingkan dengan penutupan akhir tahun 2008 lalu, setidaknya saham Bayan melonjak lebih dari 500 persen pada akhir tahun lalu, dibandingkan sekarang. Dimungkinkan, ada goreng-gorengan saham di sini,&amp;quot; ujar riset analis PT Reliance Securities Tbk (RELI) Gina Novrina Nasution, saat berbincang dengan okezone, di Jakarta, Senin (29/6/2009).Gina berpendapat, persoalan lain yang membayangi BYAN adalah pelemahan harga komoditas seiring merosotnya harga minyak mentah di kisaran USD70 per barel. Hal ini telah memicu investor beberapa hari terakhir melakukan switching ke sektor lain yang lebih menjanjikan keuntungan.Batu bara sebagai substitusi energi terdekat paling terpengaruh penurunan harga minyak. Koreksi harga minyak pada Juli 2008 lalu, dituding sebagai penyebab mengerek turunnya saham emiten batu bara. Sebelumnya, penerbitan pernyataan efektif IPO Bayan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga harus diundur dari jadwal menyusul munculnya kasus sengketa lahan tambang.Pemanfaatan lahan tambang anak usaha BYAN, yaitu PT Perkasa Inaka Kerta (PIK), dianggap berada di atas lahan hutan milik PT Porodisa. Tambang batubara PIK juga disebut-sebut belum memiliki izin prinsip pencadangan lokasi tambang dan izin pinjam pakai kawasan dari Departemen Kehutanan.Pada 18 Juli 2008, Bayan Group menerima surat dari Pelaksana Tugas Bupati Kutai Timur yang menyatakan mereka melanggar UU Kehutanan. Tapi, Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany akhirnya memberi pernyataan efektif kepada BYAN setelah menelaah kasusnya.BYAN adalah emiten ke-17 yang dicatatkan di BEI tahun 2008, yang melepas 958.333.500 saham dengan nilai nominal Rp100. Sedangkan seluruh saham mencapai 2,375 miliar saham. Pemegang saham perseroan setelah IPO adalah Dato' Low Tuck Kwong 56,3 persen, Jenny Quantero 11,3 pesren, Engki Wibowo 7,5 persen, dan publik 25 persen.  </content:encoded></item></channel></rss>
