<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Valuasi Pertamina ke Divestasi Saham ELSA Dinilai Rugikan Investor</title><description>Harga penawaran PT Pertamina (Persero) pada divestasi 37,15 persen saham PT Elnusa Tbk (ELSA) milik PT Tridaya Esta di kisaran Rp200-Rp300 dari sebelumnya Rp451 per saham dinilai merugikan investor. Hingga kini preferred bidder masih  dipegang konsorsium Northstar-Saratoga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2009/07/14/278/238550/valuasi-pertamina-ke-divestasi-saham-elsa-dinilai-rugikan-investor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2009/07/14/278/238550/valuasi-pertamina-ke-divestasi-saham-elsa-dinilai-rugikan-investor"/><item><title>Valuasi Pertamina ke Divestasi Saham ELSA Dinilai Rugikan Investor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2009/07/14/278/238550/valuasi-pertamina-ke-divestasi-saham-elsa-dinilai-rugikan-investor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2009/07/14/278/238550/valuasi-pertamina-ke-divestasi-saham-elsa-dinilai-rugikan-investor</guid><pubDate>Selasa 14 Juli 2009 13:24 WIB</pubDate><dc:creator>Whisnu Bagus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/07/14/278/238550/uuM53QSMnm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Foto: Corbis</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/07/14/278/238550/uuM53QSMnm.jpg</image><title>Ilustrasi. Foto: Corbis</title></images><description>JAKARTA - Harga  penawaran PT Pertamina (Persero) pada divestasi 37,15 persen saham PT Elnusa Tbk  (ELSA) milik PT Tridaya Esta di kisaran Rp200-Rp300 dari sebelumnya Rp451 per  saham dinilai merugikan investor. Hingga kini preferred bidder masih  dipegang konsorsium Northstar-Saratoga.&amp;quot;Ini sama saja mempermainkan investor publik,&amp;quot; kata  Ketua Masyarakat Investor Seluruh Indonesia (MISI) ND Murdhani, saat dihubungi di  Jakarta, Selasa (14/7/2009).Dia  mengatakan, sebaiknya Pertamina sebagai Â induk usaha Elnusa tidak memberikan  valuasi harga serendah itu. Pasalnya, hal ini membingungkan investor sehingga  memberikan sentimen negatif pada saham ELSA sejak satu bulan terakhir. Untuk memberikan penilaian yang wajar, lanjut dia, sebaiknya Pertamina menyerahkan  kepada lembaga independen yang kredibel.&amp;quot;Sebaiknya Pertamina memang tidak usah  memberi valuasi harga serendah itu atau tidak mengajukan penawaran sama sekali,&amp;quot;  kata Murdhani.Pertamina menunjuk PT Danareksa Securites sebagai  penasehat keuangan dalam proses divestasi saham ELSA. Berdasarkan sumber, Pertamina mengajukan penawaran terakhir sebesar Rp300  per saham, bahkan jajaran komisaris hanya berani menawar Rp200 per saham jauh  dari harga penawaran terakhir yang sempat di level Rp451 per saham.Harga penawaran terakhir ini jauh di bawah harga  penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) saham ELSA di level  Rp410 per saham. Berdasarkan sumber tersebut, Pertamina sengaja mengubah harga  penawaran dengan maksud menurunkan harga ELSA sekaligus mengacaukan transaksi.  Namun Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan membantah hal tersebut. &amp;quot;Dari awal hingga akhir, Pertamina selalu mematok harga di bawah Rp300,&amp;quot; katanya  belum lama ini.Meski demikian Murdhani meyakini, valuasi harga  penawaran Pertamina bisa berubah di atas harga IPO. &amp;quot;Kalau tidak ingin beli, ya  jangan kacaukan harga dong. Apalagi oleh pihak pengendali, bisa-bisa dianggap  melanggar UU Pasar Modal,&amp;quot; kata Murdhani.Sementara Fund Manager Reliance Asset Management Deni  Hamzah Â mengatakan, Pertamina dinilai tidak serius membeli saham Tridaya Esta di  ELSA. Hal ini terlihat dari rendahnya valuasi harga penawaran yang disodorkan  Pertamina. &amp;quot;Saya lihat valuasi yang dibuat sudah tidak masuk akal, apalagi  Pertamina kan mayoritas, masa anak perusahan sendiri dijelek-jelekan, saya  setuju kalau Pertamina tidak serius beli,&amp;quot; katanya.Denny juga mempertanyakan valuasi saham ELSA oleh  Pertamina yang menilai harga saham anak usahanya tersebut di sekiraÂ  Rp200 per  saham. &amp;quot;Ini aneh, bagaimana mungkin Pertamina menawar harga saham anak usahanya  sendiri juah di bawah harga perdana,&amp;quot; turur Deni.Komisaris Pertamina hanya memberi wewenang kepada  direksi untuk membeliÂ ELSA sebesar Rp200 saja. Dengan fakta ini terkesan ada  pihak-pihak tertentu yang berusaha untuk menggagalkan transaksi  ini.Lebih jauh, Deni mempertanyakan logika manajemen Pertamina dengan  harga valuasi yang justru merugikan Pertamina sendiri. &amp;quot;Sepertinya komisaris dan  direksi Pertamina lupa bahwa Pertamina itu pemegang saham mayoritas di ELSA.  Kalau mereka bid murah, maka harga tertekan. Pada akhirnya yang rugi negara juga  karena nilai asetnya berkurang di ELSA,&amp;quot; ungkap Deni.Dia juga  mengkritisi harga valuasi Pertamina terhadap saham ELSA yang di bawah harga  likuidasi sekira Rp200 sulit diterima akal sehat. &amp;quot;Sebab itu seolah-olah  Pertamina tidak membutuhkan ELSA dan menganggapnya sebagai perusahaan yang tidak  bagus. Masak sih, anak perusahaan sendiri dijelek-jelekkan?&amp;quot; kritik Deni  setengah bertanya.Deni menyarankan, andai kata Pertamina memang enggan  membeli Elnusa, sebaiknya BUMN migas ini berdiam  diri. Dengan demikian, semua pihak akan diuntungkan. &amp;quot;Apalagi sebetulnya Elnusa  perusahaan yang sangat prospektif dan sejalan dengan bisnis inti Pertamina,&amp;quot;  jelas Deni.ELSA merupakan satu-satunya perusahaan nasional yang  memberikan jasa integrated oil and gas services secara lengkap, dari hulu  hingga ke hilir. Tidak ada satu pun perusahaan domestik maupun asing di Indonesia  yang memiliki kompetensi dan skalabilitas di bidang ini selain Elnusa. Selain  itu, ELSA juga dikenal dengan keahliannya di bidang geo-science, yaitu jasa yang  mengidentifikasi potensi minyak dan gas bumi.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga  penawaran PT Pertamina (Persero) pada divestasi 37,15 persen saham PT Elnusa Tbk  (ELSA) milik PT Tridaya Esta di kisaran Rp200-Rp300 dari sebelumnya Rp451 per  saham dinilai merugikan investor. Hingga kini preferred bidder masih  dipegang konsorsium Northstar-Saratoga.&amp;quot;Ini sama saja mempermainkan investor publik,&amp;quot; kata  Ketua Masyarakat Investor Seluruh Indonesia (MISI) ND Murdhani, saat dihubungi di  Jakarta, Selasa (14/7/2009).Dia  mengatakan, sebaiknya Pertamina sebagai Â induk usaha Elnusa tidak memberikan  valuasi harga serendah itu. Pasalnya, hal ini membingungkan investor sehingga  memberikan sentimen negatif pada saham ELSA sejak satu bulan terakhir. Untuk memberikan penilaian yang wajar, lanjut dia, sebaiknya Pertamina menyerahkan  kepada lembaga independen yang kredibel.&amp;quot;Sebaiknya Pertamina memang tidak usah  memberi valuasi harga serendah itu atau tidak mengajukan penawaran sama sekali,&amp;quot;  kata Murdhani.Pertamina menunjuk PT Danareksa Securites sebagai  penasehat keuangan dalam proses divestasi saham ELSA. Berdasarkan sumber, Pertamina mengajukan penawaran terakhir sebesar Rp300  per saham, bahkan jajaran komisaris hanya berani menawar Rp200 per saham jauh  dari harga penawaran terakhir yang sempat di level Rp451 per saham.Harga penawaran terakhir ini jauh di bawah harga  penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) saham ELSA di level  Rp410 per saham. Berdasarkan sumber tersebut, Pertamina sengaja mengubah harga  penawaran dengan maksud menurunkan harga ELSA sekaligus mengacaukan transaksi.  Namun Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan membantah hal tersebut. &amp;quot;Dari awal hingga akhir, Pertamina selalu mematok harga di bawah Rp300,&amp;quot; katanya  belum lama ini.Meski demikian Murdhani meyakini, valuasi harga  penawaran Pertamina bisa berubah di atas harga IPO. &amp;quot;Kalau tidak ingin beli, ya  jangan kacaukan harga dong. Apalagi oleh pihak pengendali, bisa-bisa dianggap  melanggar UU Pasar Modal,&amp;quot; kata Murdhani.Sementara Fund Manager Reliance Asset Management Deni  Hamzah Â mengatakan, Pertamina dinilai tidak serius membeli saham Tridaya Esta di  ELSA. Hal ini terlihat dari rendahnya valuasi harga penawaran yang disodorkan  Pertamina. &amp;quot;Saya lihat valuasi yang dibuat sudah tidak masuk akal, apalagi  Pertamina kan mayoritas, masa anak perusahan sendiri dijelek-jelekan, saya  setuju kalau Pertamina tidak serius beli,&amp;quot; katanya.Denny juga mempertanyakan valuasi saham ELSA oleh  Pertamina yang menilai harga saham anak usahanya tersebut di sekiraÂ  Rp200 per  saham. &amp;quot;Ini aneh, bagaimana mungkin Pertamina menawar harga saham anak usahanya  sendiri juah di bawah harga perdana,&amp;quot; turur Deni.Komisaris Pertamina hanya memberi wewenang kepada  direksi untuk membeliÂ ELSA sebesar Rp200 saja. Dengan fakta ini terkesan ada  pihak-pihak tertentu yang berusaha untuk menggagalkan transaksi  ini.Lebih jauh, Deni mempertanyakan logika manajemen Pertamina dengan  harga valuasi yang justru merugikan Pertamina sendiri. &amp;quot;Sepertinya komisaris dan  direksi Pertamina lupa bahwa Pertamina itu pemegang saham mayoritas di ELSA.  Kalau mereka bid murah, maka harga tertekan. Pada akhirnya yang rugi negara juga  karena nilai asetnya berkurang di ELSA,&amp;quot; ungkap Deni.Dia juga  mengkritisi harga valuasi Pertamina terhadap saham ELSA yang di bawah harga  likuidasi sekira Rp200 sulit diterima akal sehat. &amp;quot;Sebab itu seolah-olah  Pertamina tidak membutuhkan ELSA dan menganggapnya sebagai perusahaan yang tidak  bagus. Masak sih, anak perusahaan sendiri dijelek-jelekkan?&amp;quot; kritik Deni  setengah bertanya.Deni menyarankan, andai kata Pertamina memang enggan  membeli Elnusa, sebaiknya BUMN migas ini berdiam  diri. Dengan demikian, semua pihak akan diuntungkan. &amp;quot;Apalagi sebetulnya Elnusa  perusahaan yang sangat prospektif dan sejalan dengan bisnis inti Pertamina,&amp;quot;  jelas Deni.ELSA merupakan satu-satunya perusahaan nasional yang  memberikan jasa integrated oil and gas services secara lengkap, dari hulu  hingga ke hilir. Tidak ada satu pun perusahaan domestik maupun asing di Indonesia  yang memiliki kompetensi dan skalabilitas di bidang ini selain Elnusa. Selain  itu, ELSA juga dikenal dengan keahliannya di bidang geo-science, yaitu jasa yang  mengidentifikasi potensi minyak dan gas bumi.</content:encoded></item></channel></rss>
