<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Permintaan Impor Negara Maju Masih Rendah </title><description>Permintaan impor dari negara-negara maju belum naik secara signifikan pada tahun depan. Hal ini terjadi mengingat masih tingginya tingkat pengangguran di negara maju. </description><link>https://economy.okezone.com/read/2009/11/24/20/278513/permintaan-impor-negara-maju-masih-rendah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2009/11/24/20/278513/permintaan-impor-negara-maju-masih-rendah"/><item><title>Permintaan Impor Negara Maju Masih Rendah </title><link>https://economy.okezone.com/read/2009/11/24/20/278513/permintaan-impor-negara-maju-masih-rendah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2009/11/24/20/278513/permintaan-impor-negara-maju-masih-rendah</guid><pubDate>Selasa 24 November 2009 06:49 WIB</pubDate><dc:creator>Meutia Rahmi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/11/24/20/278513/RrJMtujhN2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran SI</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/11/24/20/278513/RrJMtujhN2.jpg</image><title>Foto: Koran SI</title></images><description>JAKARTA - Permintaan impor dari negara-negara maju belum naik secara signifikan pada tahun depan. Hal ini terjadi mengingat masih tingginya tingkat pengangguran di negara maju.   Ekonom PT Bank Danamon Tbk Anton Hendranata mengatakan, pengangguran, terutama di Amerika Serikat (AS) masih menjadi masalah yang menganggu di tengah pemulihan ekonomi global. &amp;quot;Tingkat pengangguran meningkat menjadi 10,2 persen pada bulan Oktober dari 9,8 persen pada bulan sebelumnya,&amp;quot; ujarnya di Jakarta kemarin. Tingginya tingkat pengangguran ini, lanjut dia, membuat daya beli masyarakat AS masih lemah. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang masih turun -0,6 persen pada September dari -0,4 persen di Agustus. Anton menuturkan, jika masalah pengangguran ini dapat diatasi dengan baik akselerasi pemulihan ekonomi global akan lebih baik lagi dari perkiraan sebelumnya. Secara umum, dia melanjutkan, perekonomian global telah mengakhiri periode kontraksi dan siap menyambut pertumbuhan yang positif. &amp;quot;Nuansa optimisme makin menguat terhadap perbaikan perekonomian global,&amp;quot;ujarnya. Indikator perbaikan perekonomian tersebut, antara lain tampak pada pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2009 sebesar 3,5 persen setelah terkontraksi empat triwulan berturut-turut sejak kuartal III-2008. Selain itu, Anton melanjutkan, kegiatan produksi negara-negara maju secara kontinu dan perlahan membaik. &amp;quot;Meskipun pertumbuhan produksi tahunan masih negatif,&amp;quot; imbuhnya. Kendati demikian, perekonomian dunia dipandang masih perlu diwaspadai. Dalam hal ini, ujarnya, stimulus perekonomian masih diperlukan dengan menggunakan rezim kebijakan moneter yang longgar. Negara-negara maju juga tetap menerapkan kebijakan suku bunga acuan rendah sebagai upaya antisipasi lainnya. &amp;quot;Kecuali Australia yang sudah menaikkan suku bunga acuannya,&amp;quot; kata Anton. Di Indonesia, tuturnya, pemulihan ekonomi terjadi secara merata pada hampir semua sektor perekonomian. Pemulihan ini mulai terlihat pada kuartal II-2009 yang berlanjut di kuartal III. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum berkualitas karena lebih didorong sektor-sektor yang tidak dapat diperdagangkan (nontradable) sehingga dampak terhadap penyerapan tenaga kerja tidak signifikan. Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustik mengatakan, sektor manufaktur dan pertanian harus mampu tumbuh pesat untuk menciptakan perekonomian berkualitas. &amp;quot;Karena keduanya memiliki multiplier effect yang tinggi sehingga menyerap banyak tenaga kerja,&amp;quot; ujarnya. Selebihnya, lanjut Erani, sektor keuangan dan perdagangan juga perlu didorong untuk mendukung pertumbuhan kedua sektor tadi.&amp;quot;Pola ini memastikan pertumbuhan ekonomi diikuti dengan keterlibatan masyarakat sehingga menjadi bermutu,&amp;quot; tegasnya.Â   </description><content:encoded>JAKARTA - Permintaan impor dari negara-negara maju belum naik secara signifikan pada tahun depan. Hal ini terjadi mengingat masih tingginya tingkat pengangguran di negara maju.   Ekonom PT Bank Danamon Tbk Anton Hendranata mengatakan, pengangguran, terutama di Amerika Serikat (AS) masih menjadi masalah yang menganggu di tengah pemulihan ekonomi global. &amp;quot;Tingkat pengangguran meningkat menjadi 10,2 persen pada bulan Oktober dari 9,8 persen pada bulan sebelumnya,&amp;quot; ujarnya di Jakarta kemarin. Tingginya tingkat pengangguran ini, lanjut dia, membuat daya beli masyarakat AS masih lemah. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang masih turun -0,6 persen pada September dari -0,4 persen di Agustus. Anton menuturkan, jika masalah pengangguran ini dapat diatasi dengan baik akselerasi pemulihan ekonomi global akan lebih baik lagi dari perkiraan sebelumnya. Secara umum, dia melanjutkan, perekonomian global telah mengakhiri periode kontraksi dan siap menyambut pertumbuhan yang positif. &amp;quot;Nuansa optimisme makin menguat terhadap perbaikan perekonomian global,&amp;quot;ujarnya. Indikator perbaikan perekonomian tersebut, antara lain tampak pada pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2009 sebesar 3,5 persen setelah terkontraksi empat triwulan berturut-turut sejak kuartal III-2008. Selain itu, Anton melanjutkan, kegiatan produksi negara-negara maju secara kontinu dan perlahan membaik. &amp;quot;Meskipun pertumbuhan produksi tahunan masih negatif,&amp;quot; imbuhnya. Kendati demikian, perekonomian dunia dipandang masih perlu diwaspadai. Dalam hal ini, ujarnya, stimulus perekonomian masih diperlukan dengan menggunakan rezim kebijakan moneter yang longgar. Negara-negara maju juga tetap menerapkan kebijakan suku bunga acuan rendah sebagai upaya antisipasi lainnya. &amp;quot;Kecuali Australia yang sudah menaikkan suku bunga acuannya,&amp;quot; kata Anton. Di Indonesia, tuturnya, pemulihan ekonomi terjadi secara merata pada hampir semua sektor perekonomian. Pemulihan ini mulai terlihat pada kuartal II-2009 yang berlanjut di kuartal III. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum berkualitas karena lebih didorong sektor-sektor yang tidak dapat diperdagangkan (nontradable) sehingga dampak terhadap penyerapan tenaga kerja tidak signifikan. Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustik mengatakan, sektor manufaktur dan pertanian harus mampu tumbuh pesat untuk menciptakan perekonomian berkualitas. &amp;quot;Karena keduanya memiliki multiplier effect yang tinggi sehingga menyerap banyak tenaga kerja,&amp;quot; ujarnya. Selebihnya, lanjut Erani, sektor keuangan dan perdagangan juga perlu didorong untuk mendukung pertumbuhan kedua sektor tadi.&amp;quot;Pola ini memastikan pertumbuhan ekonomi diikuti dengan keterlibatan masyarakat sehingga menjadi bermutu,&amp;quot; tegasnya.Â   </content:encoded></item></channel></rss>
