<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Industri Mebel Keluhkan Kurangnya Bahan Baku</title><description>Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) mengeluhkan kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku kayu dengan harga terjangkau. Menurut Wakil Ketua Umum Asmindo Rudy T Luwia, pada saat ini, anggota Asmindo memanfaatkan pasokan bahan baku dari Perum Perhutani, pedagang, atau industri besar. </description><link>https://economy.okezone.com/read/2010/08/29/320/367819/industri-mebel-keluhkan-kurangnya-bahan-baku</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2010/08/29/320/367819/industri-mebel-keluhkan-kurangnya-bahan-baku"/><item><title>Industri Mebel Keluhkan Kurangnya Bahan Baku</title><link>https://economy.okezone.com/read/2010/08/29/320/367819/industri-mebel-keluhkan-kurangnya-bahan-baku</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2010/08/29/320/367819/industri-mebel-keluhkan-kurangnya-bahan-baku</guid><pubDate>Minggu 29 Agustus 2010 18:46 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/08/29/320/367819/WLmmz79Ibf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi . Foto: Koran SI</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/08/29/320/367819/WLmmz79Ibf.jpg</image><title>Ilustrasi . Foto: Koran SI</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) mengeluhkan kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku kayu dengan harga terjangkau. Menurut Wakil Ketua Umum Asmindo Rudy T Luwia, pada saat ini, anggota Asmindo memanfaatkan pasokan bahan baku dari Perum Perhutani, pedagang, atau industri besar. &amp;ldquo;Masalah kami saat ini soal pasokan bahan baku. Padahal, sektor ini mempunyai potensi pertumbuhan yang besar. Sekira 70 persen anggota Asmindo itu industri kecil. Kalau industri besar dan menengah mungkin bisa membeli kayu-kayu Perhutani, apalagi untuk jati. Industri menengah bisa memanfaatkan kayu kampung. Memang diizinkan impor, tapi level kami belum kesana. Kami berharap, pembangunan terminal bahan baku segera dilakukan,&amp;rdquo; kata Rudi di Jakarta, akhir pekan lalu.Menurutnya, terminal yang dibangun adalah fokus pada kelancaran pasokan bahan baku. Sehingga, kata dia, pelaku usaha mebel dan kerahinan nasional bisa mendapatkan harga yang lebih kompetitif. &amp;nbsp;&amp;ldquo;Memang ada kerjasama pengelolaan dengan Perhutani. Tapi, itu industri besar. Mereka mendapat jaminan kayu. Harganya lebih mahal dari kayu kampung. 70 persen anggota Asmindo yang pemain kecil tidak sanggup. Kalau kayu kampung tidak ada jaminannya,&amp;rdquo; ujarnya. Sementara itu, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Aryan Wargadalam mengatakan,&amp;nbsp; pemerintah telah membangun terminal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi. Terminal Kendal dipastikan mampu memenuhi hingga kapasitas maksimal. &amp;nbsp;&amp;ldquo;Kalau konsumsi nasional sekitar 12 juta meter kubik per tahun,&amp;rdquo; kata Aryam.Rudi menambahkan, pada saat ini, kebutuhan kayu anggota Asmindo mencapai 4,5 juta meter kubik per tahun. (adn)</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) mengeluhkan kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku kayu dengan harga terjangkau. Menurut Wakil Ketua Umum Asmindo Rudy T Luwia, pada saat ini, anggota Asmindo memanfaatkan pasokan bahan baku dari Perum Perhutani, pedagang, atau industri besar. &amp;ldquo;Masalah kami saat ini soal pasokan bahan baku. Padahal, sektor ini mempunyai potensi pertumbuhan yang besar. Sekira 70 persen anggota Asmindo itu industri kecil. Kalau industri besar dan menengah mungkin bisa membeli kayu-kayu Perhutani, apalagi untuk jati. Industri menengah bisa memanfaatkan kayu kampung. Memang diizinkan impor, tapi level kami belum kesana. Kami berharap, pembangunan terminal bahan baku segera dilakukan,&amp;rdquo; kata Rudi di Jakarta, akhir pekan lalu.Menurutnya, terminal yang dibangun adalah fokus pada kelancaran pasokan bahan baku. Sehingga, kata dia, pelaku usaha mebel dan kerahinan nasional bisa mendapatkan harga yang lebih kompetitif. &amp;nbsp;&amp;ldquo;Memang ada kerjasama pengelolaan dengan Perhutani. Tapi, itu industri besar. Mereka mendapat jaminan kayu. Harganya lebih mahal dari kayu kampung. 70 persen anggota Asmindo yang pemain kecil tidak sanggup. Kalau kayu kampung tidak ada jaminannya,&amp;rdquo; ujarnya. Sementara itu, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Aryan Wargadalam mengatakan,&amp;nbsp; pemerintah telah membangun terminal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi. Terminal Kendal dipastikan mampu memenuhi hingga kapasitas maksimal. &amp;nbsp;&amp;ldquo;Kalau konsumsi nasional sekitar 12 juta meter kubik per tahun,&amp;rdquo; kata Aryam.Rudi menambahkan, pada saat ini, kebutuhan kayu anggota Asmindo mencapai 4,5 juta meter kubik per tahun. (adn)</content:encoded></item></channel></rss>
