<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lagi, Apindo Tolak Kenaikan TDL Jilid II</title><description>Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menolak rencana kenaikan  tarif dasar listrik (TDL) jilid II sebesar 15 persen pada 2011.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2010/09/03/320/369594/lagi-apindo-tolak-kenaikan-tdl-jilid-ii</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2010/09/03/320/369594/lagi-apindo-tolak-kenaikan-tdl-jilid-ii"/><item><title>Lagi, Apindo Tolak Kenaikan TDL Jilid II</title><link>https://economy.okezone.com/read/2010/09/03/320/369594/lagi-apindo-tolak-kenaikan-tdl-jilid-ii</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2010/09/03/320/369594/lagi-apindo-tolak-kenaikan-tdl-jilid-ii</guid><pubDate>Jum'at 03 September 2010 07:19 WIB</pubDate><dc:creator>Candra Setya Santoso</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/09/02/320/369594/npuzAal3vP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi. foto: corbis</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/09/02/320/369594/npuzAal3vP.jpg</image><title>ilustrasi. foto: corbis</title></images><description>JAKARTA - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menolak rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) jilid II sebesar 15 persen pada 2011.Kenaikan TDL secara beruntun pada Juli 2010 dan 2011 berpotensi memangkas daya saing industri nasional, sehingga bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.Keberatan itu diungkapkan Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi saat buka puasa bersama di hadapan Asosiasi Usaha/Profesi, Lembaga Nasional dan Keagamaan serta Tokoh Masyarakat, di Gedung Ditjen Pajak, Jakarta, Kamis (2/9/2010) malam.Dalam Nota Keuangan 2011 disebutkan, beban subsidi listrik akan dipangkas pada tahun depan menjadi hanya Rp41 triliun dari Rp55,1 triliun pada 2010. Konsekuensinya pun TDL akan dinaikkan 15 persen.Menurut Sofjan, pihaknya segera melakukan konsolidasi dengan pengusaha yang lain untuk mendeklarasikan penolakan secara tegas terkait kenaikan tersebut. &quot;Itu sangat berat karena bisa-bisa pengusaha jadi importir dan lay off sudah pasti terjadi,&quot; ujar dia.Franky menjelaskan, kenaikan TDL 15 persen jilid II itu tidak realistis. Dengan kenaikan TDL, pemerintah tidak punya sensitivitas terkait fakta-fakta di lapangan. Pengusaha, lanjut dia, sudah mengikuti apa yang dianjurkan pemerintah, tapi kenapa TDL kembali akan dinaikkan tahun depan. Dengan cara ini, pengusaha pasti akan kehilangan daya saing.&quot;Sebagai solusi, mestinya PLN merumuskan formula agar rumah tangga kaya (2.200 volt ampere) ke atas tidak perlu disubsidi. Dengan demikian, subsidi bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur atau program-program antikemiskinan,&quot; papar dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menolak rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) jilid II sebesar 15 persen pada 2011.Kenaikan TDL secara beruntun pada Juli 2010 dan 2011 berpotensi memangkas daya saing industri nasional, sehingga bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.Keberatan itu diungkapkan Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi saat buka puasa bersama di hadapan Asosiasi Usaha/Profesi, Lembaga Nasional dan Keagamaan serta Tokoh Masyarakat, di Gedung Ditjen Pajak, Jakarta, Kamis (2/9/2010) malam.Dalam Nota Keuangan 2011 disebutkan, beban subsidi listrik akan dipangkas pada tahun depan menjadi hanya Rp41 triliun dari Rp55,1 triliun pada 2010. Konsekuensinya pun TDL akan dinaikkan 15 persen.Menurut Sofjan, pihaknya segera melakukan konsolidasi dengan pengusaha yang lain untuk mendeklarasikan penolakan secara tegas terkait kenaikan tersebut. &quot;Itu sangat berat karena bisa-bisa pengusaha jadi importir dan lay off sudah pasti terjadi,&quot; ujar dia.Franky menjelaskan, kenaikan TDL 15 persen jilid II itu tidak realistis. Dengan kenaikan TDL, pemerintah tidak punya sensitivitas terkait fakta-fakta di lapangan. Pengusaha, lanjut dia, sudah mengikuti apa yang dianjurkan pemerintah, tapi kenapa TDL kembali akan dinaikkan tahun depan. Dengan cara ini, pengusaha pasti akan kehilangan daya saing.&quot;Sebagai solusi, mestinya PLN merumuskan formula agar rumah tangga kaya (2.200 volt ampere) ke atas tidak perlu disubsidi. Dengan demikian, subsidi bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur atau program-program antikemiskinan,&quot; papar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
